Pilpres 2019
Viral Video Rekaman Suara Bergambar Mantan Panglima TNI Soal Pilpres, Gatot Nurmantyo: HOAX!
Gatot Nurmantyo bereaksi terkait beredarnya remakaman suara di media sosial terkait Pilpres 2019.
Penulis: Mohamad Afkar Sarvika | Editor: Ilusi Insiroh
TRIBUNJAKARTA.COM - Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo bereaksi terkait beredarnya remakaman suara di media sosial terkait Pilpres 2019.
Belum lama ini bereddar sebuah video rekaman suara dengan menempelkan foto Gatot Nurmantyo.
Dalam video tersebut terlihat pula tulisan 'Jenderal Purn. Nurmantyo'.
Suara yang terdapat dalam video itu pun seolah adalah suara Gatot Nurmantyo.
Ada pun hal yang dibahas dalam video remakan suara itu terkait Pilpres 2019.
Beberapa yang dibahas antara lain soal kecurangan hingga menyinggung soal provokasi.
Berikut sekilas pembahasan yang terdengar dalam video rekaman suara tersebut:
"Tinggal tunggu waktu saja."
"Jadi kita gak usah terpancing juga dengan provokasi mereka."
"Dengan melihat masifnya tindak kecurangan ini sudah memperlihatkan betapa ambisinya mereka."
"Kita bawa santai saja, masih panjang proses kita setelah 22 mei hitung manual ditutup oleh KPU."
"Kita tetap standar santai tetap kawal pleno di kelurahan atau di Kecamatan."
Video rekaman suara tesebut beredar di media sosial Twitter.
Gatot Nurmantyo pun menanggapi beredarnya video rekaman suara tersebut.
Melalui akun Twitter pribadinya yang terverifikasi, Gatot Nurmantyo mengklarifkasi suara yang terdengar dalam video itu.
Gatot Nurmantyo menjelaskan bahwa suara yang terdengar dalam video tersebut bukan lah suara dirinya.
Tak hanya itu, Gatot Nurmantyo pun menyebut bahwa dirinya tidak mengenal suara yang terdengar pada video tersebut.
Gatot Nurmantyo menegaskan bahwa video rekaman suara bergambar potret dirinya adalah hoaks.
"Beredar rekaman suara orang yg tidak saya kenal dgn menempelkan foto saya pada rekaman suara tsb. Ini HOAX !!!," tulis Gatot Nurmantyo, Minggu (28/4/2019).

Bongkar Anggaran TNI-Polri di Acara Prabowo, Gatot Nurmantyo: Ini Mengecilkan Tentara Indonesia
Hadir di acara pidato kebangsaan Prabowo Subianto, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo blak-blakan soal anggaran pertahanan dan keamanan di Indonesia.
Acara pidato kebangsaan Prabowo Subianto digelar di Dyandra Convention Hall, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/4/2019).
Pada kesempatan itu, Prabowo Subianto memberikan kesempatan kepada Gatot Nurmantyo untuk bicara di podium.
Gatot Nurmantyo berbicara soal masalah kebangsaan di hadapan pendukung Prabowo Subianto.
Awalnya, Gatot Nurmantyo menjelaskna maksud kedatangannya ke acara pidato kebangsaan Prabowo Subianto.
"Saya datang ke sini tidak ada lain karena merah putih karena negara dan bangsa memanggil," ujar Gatot Nurmantyo seperti dikutip TribunJakarta dari tayangan YouTube Digdaya TV, Sabtu (13/4/2019).
Gatot Nurmantyo pun mengaku mendapat telepon dari Prabowo Subianto yang memintanya hadir di acara pidato kebangsaan.
"Untuk negara bangsa rakyat Indonesia atas telepon dari Pak Prabowo meminta saya hadir untuk bicara masalah kebangsaan di sini," kata Gatot Nurmantyo.
• Tanggapi Komentar Nyinyir Soal Massa di GBK, Gibran Rakabuming Pertanyakan Satu Hal: Penasaran Saya
• Diundang Tampil di Kampanye Jokowi-Maruf, Hellcrust Band Harap Acara Musik Indonesia Semakin Banyak
Ada tiga poin yang disampaikan Gatot Nurmantyo dalam pemaparannya.
Pertama terkait masalah internasional, nasional dan perorangan.
Terkait dengan kondisi nasional, Gatot Nurmantyo mengungkapkan suatu hal yang saat ini tengah kritis.
"Ada satu hal yang kritis bahwa kekuatan inti bangsa Indonesia itu adalah bersatunya TNI dan rakyat."
"Kalau TNI kuat rakyat kuat, negara manapun tidak bisa."
"Saat ini yang kritis adalah mulai dari segi anggaran," urai Gatot Nurmantyo.

Dalam kesempatan itu, Gatot Nurmantyo menyampaikan beberapa informasi terkait anggaran yang didapatnya ketika masih menjabat sebagai Panglima TNI.
Menurutnya, hal itu perlu disampaikan agar rakyat tidak terpecah belah.
"Saya tidak menyalahakan siapa pun, tapi ini perlu saya informasikan karena saya mantan Panglima TNI agar rakyat bersatu jangan terpecah pecah," jelasnya.
Awalnya ia menjelaskan bahwa TNI terdiri dari Departemen Pertahanan Mabes TNI, Angkata Udara, Darat, dan Laut dengan jumlah personel lebih dari 455 ribu.
"Dari segi anggaran saat saya menjabat panglima TNI. Saya sudah berusaha sekuat mungkin tapi saya tidak berdaya."
"APBNP, TNI yaitu departemen pertahanan, Mabes TNI angakat laut, angakatan darat, angkatan udara jumlah personelnya lebih dari 455 ribu, mempunyai ratusan pesawat terbang tempur, mempunyai ratusan kapal perang, ribuan tank, dan senjata berat. Anggarannya hanya 6 triliun lebih," paparnya.
Gatot Nurmantyo lantas mengungkapkan anggaran yang diterima institusi lain.
• Slankers Ramaikan Konser Putih Bersatu di Gelora Bung Karno
• Ini Alasan Sandiaga Uno Pilih Tunaikan Kampanye Pemilu 2019 Terakhir di Tangerang
Tak hanya itu, Gatot Nurmantyo juga membeberkan jumlah anggaran Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
"Tetapi ada institusi yang tak punya pesawta tempur senjatanya pendek dana ada senjata panjang sedikit saja danjml personelnya tak sampai 3 ribu tetapi angtananya 4 triliun," bebernya.
"Dan Kepolisian RI 17 triliun," sambungnya.
Menurutnya, tidak ada yang salah dalam hal anggaran tersebut.
"Tidak ada yang salah semuianya benar-benar saja tetapi ini adalah dari segi anggaran mengecilkan tentara indonesia," terangnya.
Sebelumnya, persoalan anggaran pertahanan dan keamanan sempat ramai dibahas pascadebat keempat capres beberapa waktu lalu.
FOLLOW:
Saat debat, Prabowo Subianto sendiri menyebut bahwa anggaran pertahanan dan keamanan di Indonesia hanya 5 persen dari APBN dan 0,8 persen dari GDP.
Sedangkan di Singapura anggaran pertahanannya 30 persen dari APBN dan 3 persen dari GDP.
Pernyataan itu pun lantas mendapat tanggapan dari putri presiden keempat Abdurahman Wahid, Yenny Wahid.
"Saya melihat Pak Prabowo ini, saya tidak meragukan nasionalisme beliau, saya kagum patriotisme dan nasionalisme beliau, namun sayang malam ini beliau banyak mengutip atau membaca data yang salah," kata Yenny usai debat keempat pilpres di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Senin (31/3/2019) seperti dikutip TribunJakarta dari Kompas.com.
Yenny Wahid lantas membeberkan data lain terkait anggaran pertahanan dan keamanan.
"Ini cara baca sudah keliru. Yang pertama, APBN kita jauh lebih besar dari Singapura, hampir tiga kali lipat. Artinya adalah, anggaran kita (untuk bidang pertahanan dan keamanan) nggak beda jauh," ucap Yenny Wahid.
• Kampanye di Tangerang, Sandiaga Uno Main Gitar Bareng Rhoma Irama
• Klaim Bangga Dukung Jokowi, Ustaz Yusuf Mansur: Pilpres 2019 Adalah Sudah Kemenangan Ulama
Bila anggaran tersebut menjadi ukuran kekuatan militer, lanjutnya, maka Indonesia lebih kuat dari Singapura.
Yenny Wahid membeberkan data dari Global Firepower Index, sebuah lembaga yang menghitung kekuatan militer..
Bila merujuk data itu, militer Indonesia berada di peringkat ke 15 dunia.
Sedangkan Singapura berada di bawah Indonesia menempati posisi 59.
"Di kawasan Asean, Indonesia adalah kekuatan militer yang dianggap paling kuat, ini kata Global Firepower Index, sebuah lembaga yang menghitung kekuatan militer di sebuah negara."
"Dan Indonesia ini dianggap sebagai kekuatan super power kalau ukuran militernya. Indonesia dianggap lebih kuat dari Australia," papar Yenny Wahid.
SIMAK VIDEONYA: