Imlek 2018

Budaya Patekoan Minum Teh Gratis Masih Ada di Jakarta, Lho!

Semangat tolong menolong dan solidaritas ini dituangkan Lin Che Wei ke Gedung Aphotheek Chung Hwa di Jalan Pintu Besar Pancoran Selatan.

Penulis: Ria Anatasia | Editor: Ilusi Insiroh
TribunJakarta.com/Ria Anatasia
Interior restoran Pantjoran Tea House di Glodok, Jakarta Pusat saat Imlek. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ria Anatasia

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Satu di antara kapiten berdarah Tionghoa yang terkenal di Indonesia adalah Gan Djie.

Gan Djie adalah Kapitein der Chineezen ketiga di Batavia.

Ia dikenal sebagai sosok yang suka menolong, ramah dan rajin sembahyang.

Acap kali ia melakukan pang-she (melepaskan mahluk hidup seperti burung atau ikan sebagai perbuatan baik di agama Budha).

Kisah Gan Djie dan istrinya yang selalu menyuguhkan teh gratis kepada rakyat Batavia menjadi cerita turun-temurun di kawasan Glodok, Jakarta Pusat.

Baca: Margo City Gelar Acara Imlek Hingga Sabtu, Ada Atraksi Barongsai dan Tari Seribu Tangan

Gan Djie meletakkan delapan teko teh untuk pedagang keliling dan orang-orang kelelahan yang hendak berteduh.

Delapan (pat dalam bahasa Cina) menjadi asal muasal sebutan daerah Patekoan (kini Jalan Perniagaan).

Semangat tolong menolong dan solidaritas ini dituangkan Lin Che Wei ke Gedung Aphotheek Chung Hwa di Jalan Pintu Besar Pancoran Selatan.

Sejak 2014, gedung berusia ratusan tahun tersebut direvitalisasi menjadi restoran Pantjoran Tea House.

Budaya Patekoan ini dihidupkan kembali oleh restoran yang mengusung konsep modern dan oriental ini.

Baca: Dhawiya Tertangkap Polisi Bersamaan dengan Dua Kakaknya

"Restoran ini bediri di kawasan pecinan. Ini identik dengan suku Tionghoa. Kami ingin tumbuhkan kembali budaya yang ada," ungkap manager restoran Ronald Dani Heriawan, Jumat (16/2/2018).

Di sebuah meja berukuran 1x4 meter, 8 teko teh hangat disajikan untuk warga Glodok.

"Silahkan diminum. Teh untuk kebersamaan. Teh untuk masyarakat," Tulisan itu terpampang di atas meja.

Pedagang dan pengunjung terlihat tak sungkan meminum teh manis yang beraroma khas melati itu.

"Kita sudah sajikan 1 tahun tanpa berhenti setiap hari. Kami ingin tunjukkan semangat kebersamaan dan budaya orang Batavia minum teh," kata Ronald.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved