Gara-Gara Gak Mau Kasih Contekan, Cewek Ini Dipaksa Hingga Dibully Teman Sekelas

“Perbuatan benarku dianggap salah. Aku mulai tidak punya teman karena mereka semua menjauh.”

Editor: Kurniawati Hasjanah
Florespost.co
Ilustrasi 

TRIBUNJAKARTA.COM - Sosok Amalia (17) siswi pindahan dari Papua mendapatkan perilaku tak menyenangkan saat dirinya tak mau memberikan contekan saat ulangan.

Dirinya membagikan kisahnya kepada CewekBanget.id.

Berikut kisahnya.

“Perbuatan benarku dianggap salah. Aku mulai tidak punya teman karena mereka semua menjauh.”

Semua terjadi ketika orang tuaku pindah ke Pulau Jawa, di salah satu Kota di Jawa Tengah.

Aku pindah saat itu kelas X.

Baca: Begini Hubungan dengan Soeharto, Probosutedjo: Wong Ndeso Tapi Tidak Ndesani

Aku merupakan anak pindahan dari Papua.

Aku orang Jawa, namun pekerjaan ayahku yang membuat kami harus berpindah-pindah.

Semua pada awalnya terlihat antusias dengan kedatanganku.

Dua minggu bersekolah tidak ada masalah bagiku, semuanya berubah ketika ulangan Kewarganegaraan.

Teman sebangku menanyakan jawaban padaku. Aku tidak menjawab, ia mulai memaksa dan aku tetap tidak memberikan.

Dia marah padaku. Kami saling diam hari itu. Hari itu berakhir dengan berat.

Baca: Angkat Bicara Terkait Komentar di Postingan Raffi Ahmad, Begini Kisah Anji Tentang Acara Musik di TV

Esoknya, teman sebangkuku memliih pindah tempat duduk dan tidak bersamaku lagi.

Terus Berulang

Awalnya baik-baik saja hingga ulangan Matematika datang. Ulangan sebenarnya berjalan dengan tenang.

Sayangnya, teman sebangku mulai bertanya jawaban.

Bagiku, hal tersebut salah karena menyontek adalah tindakan yang tidak jujur dan bisa saja menjadi kebiasaan.

Dia memaksa, aku tetap tidak memberi jawaban. Setelah ulangan berakhir, teman sebangku lagi-lagi diam.

Keesokan harinya saat aku berangkat sekolah, kulihat semua bangku terisi dan hanya aku yang tidak mendapatkan tempat duduk.

Aku sedih bukan main.

Baca: Foto Bareng David Beckham, Najwa Shihab: Soon On www.narasi.tv, Akan Ada Kolaborasi?

Terpaksa aku duduk sendiri padahal ada yang juga duduk sendiri. Kekejaman tidak sampai disitu.

Aku juga di-bully dan disindir oleh seluruh teman sekelasku.

Satu minggu aku bisa melewati.

Minggu kedua aku mulai menangis dan setiap ke sekolah aku merasa ada sesuatu yang berat.

Kemudian aku memutuskan untuk membicarakan ini kepada wali kelasku bahkan guru BK.

Untungnya wali kelasku membicarakannya dengan guru lain dan guru lain setuju untuk mengubah sistem ulangan agar tidak ada yang menyontek.

Tindakan Minoritas Belum Tentu Salah

Perlu diketahui bahwa tidak memberikan contekan merupakan hal yang benar.

Meskipun tindakan tersebut merupakan minoritas, seharusnya tindakan tersebut harus tetap dipertahankan.

Kejahatan besar banyak berawal dari ketidakjujuran kecil. Korupsi juga berawal dari kebohongan.

Oleh karena itu, usahakan agar tetap melakukan kebiasaan baik. Hilangkan hal buruk agar tidak menjadi kebiasaan yang juga buruk.

Bully merupakan tindakan yang tidak terpuji.

Baca: Usai Melahirkan Cecar ke-2 Kali, Zaskia Adya Mecca: Ga Percaya Ku Kesakitan Gara2 Mukanya Seger

Lebih dari 50%, anak Indonesia pernah mengalami bully di sekolahnya.

Oleh karena itu, hal yang paling tepat adalah membicarakan kepada orang yang lebih tua dan lebih mengerti.

Di sekolah, bicarakan kepada guru, namun jika itu tidak berhasil kita bisa membicarakan kepada orang tua. Tidak ada yang salah dari bersikap terbuka.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved