Ramadan 2018
VIDEO Sejarah Singkat Mbah Priuk, Wafat Dalam Perjalanan Berdakwah
Saat berumur 17 tahun Mbah Priuk pun pergi ke berbagai negara untuk menimba ilmu.
Penulis: Rafdi Ghufran Bustomi | Editor: Wahyu Aji
Dalam perjalanan tiba-tiba rombongan Mbah Priuk dihantam ombak dan badai disertai hujan yang amat lebat.
Kapal yang ditumpangi Mbah Priuk pun terombang-ambing dan membuat persediaan makanan yang dibawanya terbuang ke laut dan yang tersisa hanya beberapa liter ceceran beras dan alat memasak nasi (priuk).
Di kondisi tersebut, Mbah Priuk harus memasak nasi menggunakan kayu bakar dari badan perahu.
Saat itu Mbah Priuk memasukan jubahnya ke dalam alat memasak nasi dan berdoa kepasa Allah SWT, alhasil setelah jubah beliau dibuka jadilah nasi.
Tidak lama berselang dari kejadian tersebut, datang lagi badai dan ombak yang lebih besar disertai hujan perir yang menggelegar.
Dalam badai kali ini kapal yang ditumpangi Mbah Priuk pun terbalik dan mengakibatkan tiga orang wafat.
Baca: Pos Jaga Parkir Makam Mbah Priok yang Dirusak Mulai Diperbaiki
Yang tersisa hanya Mbah Priuk dan Habib Ali Al Haddad yang bersusah payah bertahan hidup diatas perahu itu.
Setelah bertahan tanpa makan selama 10 hari, akhirnya Mbah Priuk pun jatuhbsakit dan wafat.
"Di dalam kondisi yang lemah, kurang lebih 10 harintidak makan, sampai akhirnya jatuh sakit dan tidak dapat tertolong lagi Habib Ali Al Haddad, sehingga wafat lah Mbah Priuk atau yang nama aslinya Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad,” kata Chandra Jumat (1/5/2018).
Saat itu Habib Ali Al Haddad bersama jenazah Mbah Peiuk juga alat memasak nasi dan dayung kapal terdorong oleh ombak dan diiringi kerumunan lumba-lumba ke tepian pantai semenanjung.
Setelah beberapa orang yang melihat kejadian itu, diantaranya pekerja dari Banten langsung menolong Habib Ali Al Haddad dan memakamkan jenazah Mbah Priuk.
Sisa dayung kapal yang terselamatkan pun digunakan sebagai batu nisan Mbah Priuk dan dibagian kaki ditancapkan kayu kecil yang tumbuh menjadi pohon tanjung.
Adapun alat untuk memasak nasi (priuk) diletakan di samping makam Mbah Priuk.
Baca: Penemu Andrich Tech System Tegaskan Air Hasil Limbah Tinja Bukan untuk Diminum
Konon priuk tersebut lambat laun bergeser dan sampai lah di laut.
Banyak orang yang bercerita seriap tiga sampai empat tahun sekali priuk itu timbul dilaut dengan ukuran sebesar rumah.
Setelah beberapa bulan dari dimakamkan Mbah Priuk, Habib Ali Al Haddad pun melanjutkan perjalanan ke Pulau Sumbawa dan menetap disana.