Beragam Reaksi Sikapi Amien Rais Ingin Maju Capres: Terinspirasi Mahathir dan Singgung Nama Prabowo
"Mahatir itu jadi semacam perubahan visi orang di Asia Tenggara ini. Jadi saya terima kasih sama Mahathir ya," paparnya.
Penulis: Ferdinand Waskita Suryacahya | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
"Karena itu ucapan pemimpin itu haruslah ucapan yang serius dan terpercaya. Ucapan yang sudah dipikirkan dengan matang segala akibat dan implikasinya. Ucapan pemimpin itu akan menjadi pegangan bagi rakyat dan pendukungnya," kata Yusril, Senin 11/6/2018).
Karena itu pula, katanya lagi, ucapan pemimpin itu harus lahir dari hati yang tulus, bukan kata bersayap. Yang seolah diucapkan dengan kejujuran, tetapi dibelakangnya mempunyai agenda pribadi yang tersembunyi.
"Karena ucapan pemimpin adalah sabdo pandito ratu, maka ucapannya tidak boleh “mencla mencle, pagi ngomong dele, sore ngomong tempe”. Artinya ucapannya berubah-ubah, inkonsisten, sehingga membingungkan rakyat dan pendukungnya," sindir Yusril.
Karena ucapan pemimpin adalah sabdo pandito ratu, lanjutnya lagi, maka pemimpin itu tidak boleh “plintat plintut” alias “munafiqun”, dalam makna, lain yang diucapkan, lain pula yang dikerjakan. Pemimpin seperti ini akan kehilangan kredibilitas di mata rakyat dan pendukungnya.
"Berpedoman kepada pepatah Jawa sabdo pandito ratu itu, maka sejak awal saya tidak berminat ataupun tertarik dengan inisiatif Pak Amien Rais yang melakukan lobby sana-sini. Untuk memilih siapa yang akan maju dalam Pilpres 2019 hadapi petahana," Yusril menegaskan.
Pengalaman, adalah guru yang paling bijak.
Tahun 1999 dalam pertemuan di rumah Dr Fuad Bawazier, cerita Yusril, Amien ketika itu mmeyakinkan dirinya termasuk yang lain untuk mencalonkan Gus Dur.
Ia dan MS Kaban dengan alasan tidak ingin mempermainkan orang untuk suatu agenda tersembunyi.
"Tahun 2018 inipun saya tidak ingin ikut-ikutan dengan manuver Pak Amien Rais, bukan karena saya apriori, tetapi saya belajar dari pengalaman. Saya kini Ketum Partai. Ibarat nakhoda, yang harus membawa penumpang ke arah yang benar, dengan cara-cara yang benar pula. Pengalaman tetaplah menjadi guru yang bijak bagi saya, dan mudah-mudahan bagi orang lain juga," kata Yusril yang pernyataannya juga ia sampaikan melalui twitternya.
5. PSI Minta Amien Rais Gentle

Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni menilai tidak ada yang perlu ditanggapi dari pernyataan Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais saat menantang Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk berduel secara gentle dengan kontestasi Pilpres 2019.
Menurut Toni sapaanya, tidak ada relevansi meminta Jokowi untuk menjadi gentleman.
Pasalnya, Jokowi adalah sosok seorang yang mengerti, memahami dan mempraktikan demokrasi tentu saja bersedia berkompetisi secara sehat dan demokratis.
"Saya tidak tahu persis apa yang dimaksud oleh pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) ini. Tidak ada relevansi meminta Presiden Jokowi untuk menjadi gentleman. Presiden Jokowi sebagai seorang yang mengerti, memahami dan mempraktikan demokrasi tentu saja bersedia berkompetisi secara sehat dan demokratis," kata Toni lewat pesan singkat kepada TribunJakarta.com, Minggu (10/6/2018).
Toni justru menantang Amien Rais menjadi orang tua yang gentle.