Terkena PHK, Pasutri Penjual Es Tebu Tak Menyerah dan Sekolahkan Anak ke Jepang, Ini Kisahnya

Meski kini air tebu dagangannya kian mengalami penurunan, namun Sularno merasa puas telah membiayai kedua anaknya hingga sarjana.

TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas
Sularno (63) dan Suyati (60) selaku penjual es tebu di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, PESANGGRAHAN - Pasangan suami-istri (Pasutri) ini tidak menyangka dapat membiayai pendidikan anaknya di Jepang.

Bahkan, kedua anaknya kini telah meraih gelar sarjana.

Sebab, Sularno (63) dan Suyati (60) hanya mengandalkan hasil dari berjualan es tebu di Jalan Taman Bintaro Barat Bintaro Jaya Sektor 1, Jakarta Selatan.

Baca: Tunggu Kapal, Pemudik Terpaksa Tidur di Pelabuhan Tanjung Priok

"Saya sebenarnya tak menyangka sebenarnya kalau dilihat dari perjalanan hidup saya. Tidak berpendidikan tinggi hanya jualan tebu. Alhamdulillah bisa menyekolahkan kedua anak saya hingga sarjana, bahkan yang paling bontot ke sekolah ke Jepang,"ujarnya kepada TribunJakarta.com, Kamis (21/6/2018).

Berkaca dari pengalaman hidupnya yang sederhana, Sularno ingin kedua anaknya bisa meraih kuliah tinggi.

Sularno (63) dan Suyati (60) selaku penjual es tebu di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan.
Sularno (63) dan Suyati (60) selaku penjual es tebu di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan. (TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas)

"Saya engga mau mereka seperti saya. Cukup saya saja. Karenanya, saya sekolahkan dia tinggi," tuturnya.

Sularno awalnya bekerja di sebuah perusahaan di bilangan Jakarta Barat.

Namun, suatu saat terjadi pemutusan kerja yang membuatnya harus berpikir kembali untuk mencari nafkah.

Baca: Prabowo Subianto: Banyak yang Membenci Saya

"Saya dulu kerja di sebuah perusahaan kemudian di PHK dan mulai mikir usaha apa yang saya bisa. Akhirnya saya melihat jualan tebu ini terbilang sangat laku kala itu," kenangnya.

Nasib terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) tak membuat Sularno merenungi nasibnya.

Ia bahkan rela membanting tulang menjadi seorang penjual es tebu.

"Saya memutuskan bekerja sebagai penjual air tebu. Dari situ saya belanja peralatan di Jakarta Barat. Ke pasar Asemka buat beli botol plastik untuk nyuling air tebunya," paparnya.

Kedua anaknya kini telah meraih gelar sarjana dan telah bekerja.

"Anak saya yang pertama sudah lulus di Atmajaya jurusan Akuntasi sementara yang kedua lulusan di Jepang abis itu balik kerja disini. Saya sempat menghabiskan sekitar Rp 150 juta untuk menyekolahkan anak saya selama dua tahun disana," tuturnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved