Politikus Gerindra Sebut Dirinya Cucu dari Istri Pertama Bung Hatta, Ini Respon Keluarga Hatta
Miftah N Sabri buat surat terbuka menanggapi pernyataan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Miftah mengaku dirinya cucu bung Hatta.
Penulis: Erlina Fury Santika | Editor: Mohamad Afkar Sarvika
Kami masih dikungkung oleh adab sopan santun dalam bertutur kata. Jika dalam pergaulan sehari-hari saat kecil kami kedapatan bercarut, maka mulut dan lidah kami kanai lado (kena cabe) oleh Ibu pertiwi. Bercarut itu artinya ngomong jorok. Misalnya menyebut: Pante*. Hanjian* Kaler* (umpatan pasar orang minang).
Nah, jika datuk masih hidup dan ketahuan kamu ngetwit carut fuc*, anjiiiin*, aku yakin datuk akan sangat marah denganmu. Mungkin kamu akan langsung dilado oleh Datuk. Dicabe dengan tangannya sendiri.
Kenapa begitu? Karena kamu sudah melanggar tradisi dalam keluarga kita. Beradat dalam berkata. Sopan dalam menulis dan bicara. Rasional dalam bertindak. Jauh dari sifat emosi yang membunuh akal.
Sama dengan Datuk yang mengaji di surau dan "maota" dilapau, setelah itu kami merantau ke Jawa ketika remaja akhir dan dewasa awal. Datuk belajar ekonomi dan hitung dagang. Aku belajar ilmu politik dan hitung-hitungan hidup.
Datuk adalah inspirasiku. Ketika di bangku kuliah, datuk dengan lantang menyuarakan kegelisahannnya atas nasib Indonesia yang saat itu belum diakui sebagai sebuah negara. Aku pun demikian dengan memilih jadi aktivis saat di bangku kuliah, di kampus yang sama tempat Ibumu Halida menempuh pendidikan.
Datuk juga pernah ke liga-liga menentang imperialisme dan menjadi pimpinan mahasiswa Indonesia dalam forum itu. Akupun begitu, pernah mewakili Indonesia dalam liga pemuda dunia.
Datuk terjun ke politik dalam usia muda, akupun meniru-niru Datuk. Obsesiku dengan langkah-langkah datuk membuat akupun terjun dalam politik dalam usia yang juga relatif muda.
Gustika Sayang, jadi begini. Datuk kita itu seorang politisi. Dia juga seorang teknokrat. Di atas itu semua, datuk tentulah negarawan.
Selesai menamatkan pendidikan tingggi di sekolah ekonomi di Rotterdam, Datuk pulang ke tanah air bersama Datuk Syahrir dan mendirikan partai politik. Menjadi pejuang politik PNI Pendidikan, melanjutkan PNI Partai Nasional Indonesia yang ditutup Eyang Karno karena sesuatu dan lain hal.
Datuk kita itu seorang geek. Kerjanya membaca, menulis, berdiskusi, berdebat, membaca lagi, menulis lagi. Saking geek-nya, kacamata datuk menjadi sedemikian tebal karena gila baca. Minus mata datuk itu lebih dari lima. Datuk tak bisa melihat jelas tanpa kaca mata.
Salah satu kacamata datuk kita masih ada disimpan oleh Paman Fadli Zon di perpustakaannya di Jl. Danau Limboto, Bendungan Hilir. Kalau tak salah Paman itu mendapatkannya dari Ibumu.
Ibumu sempat aktif dulu di Partai Gerindra, kemudian karena sesuatu dan lain hal, beliau memutuskan keluar. Mungkin saat lagi akrab-akrabnya di Gerindra itu dulu, koleksi kacamata kakekmu jatuh ke tangan Paman Fadli Zon.
Itu yang terus menerus dilakukan Datuk sepanjang usianya; membaca, membaca, dan membaca. Puluhan ribu koleksi Buku Datuk di Rumah Diponegoro. Bahkan di kampung kita, perpustakaan kotanya bernama Perpustakaan Muhammad Hatta.
Mungkin engkau belum lahir ketika Datuk masih hidup. Jadi tak pernah berinteraksi langsung. Sama lah kita. Karena itu yang tersisa pada diriku terobsesi menjadi seperti Datuk kita.
Aku membaca buku-buku datuk, aku memakai peci ala Datuk. Memakai kacamata model seperti datuk. Membaca buku-buku yang Datuk sebut dalam buku-bukunya. Berusaha sekeras mungkin bisa disiplin waktu macam datuk. Amboy susahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/politikus-gerindra-miftah-n-sabri-kiri-gustika-jusuf-hatta-tengah-dan-mohammad-hatta-kanan_20181028_144608.jpg)