Politikus Gerindra Sebut Dirinya Cucu dari Istri Pertama Bung Hatta, Ini Respon Keluarga Hatta

Miftah N Sabri buat surat terbuka menanggapi pernyataan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Miftah mengaku dirinya cucu bung Hatta.

Tayang:
Penulis: Erlina Fury Santika | Editor: Mohamad Afkar Sarvika
Facebook Miftah N Sabri & Istimewa
Politikus Gerindra Miftah N Sabri (kiri), Gustika Jusuf Hatta (tengah) dan Mohammad Hatta (kanan) 

Datuk kita juga yang mengeluarkan Wakil Presiden Maklumat X, maka menjadi berparlemen lah kita. Datuk mengeluarkan lagi maklumat 3 November 1945, maka didirikanlah partai-partai politik di Indonesia. Mekarlah tradisi berpartai di Indonesia, hingga pasang surut sejarah kepartaian kita sampai seperti sekarang ini. Datuk kitalah yang memulai semuanya untuk kali pertama.

Dialah leluhur partai-partai di indonesia. Peletak dasar perjuangan sipil lewat partai politik. Datuk juga yang merumuskan kalimat proklamasi yang super efisien itu. Datuk yang mendiktekannya lalu ditulis tangan Eyang Karno.

Kata Eyang Karno, "Bahasa Indonesia Hatta lebih baik dari saya, biar ia merumuskan kata-katanya, saya menuliskannya saja".

Datuk juga yang merumuskan pasal 33 dalam Konstitusi kita. Ya, pasal yang fenomenal itu. Yang menjadi landasan perjuangan ekonomi kita (seharusnya).

"Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara."

"Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat."

Ya, beliau suka dengan kata-kata "adil dan makmur". Datuk kita suka terlibat mengurusi soalan orang-orang banyak. Soalan rakyat.

Datuk kita juga seorang cendikiawan. Kata-katanya terukur dan dalam. Dia jauh dari sumpah serapah.

Pun datuk adalah politikus ulung. Pernah pula menjadi Perdana Menteri. Beliau memberi makna positif dan terhormat tentang politik, perjuangan politik, politisi, partai, diplomasi, dan kedaulatan ekonomi, dan lain-lain.

Aliran politik Datuk kita adalah aliran politik pendidikan kader-kader. Bukan aliran propaganda demagogi massa. Di sana Datuk berbeda jalan dengan Eyang Karno.

Ada fase dalam hidup Datuk kita yang seiring dengan Eyang Karno, tapi ada pula masa dalam hidupnya Datuk berbeda tajam secara prinsip dan jalan perjuangan dengan Eyang Karno. Tapi yang dilakukan oleh Datuk adalah pertikaian terhormat dua orang sahabat dalam politik.

Dia serang gagasan Eyang Karno, dia ajak bertikai Eyang Karno dalam fikiran. Tapi Datuk tetap hormat dan sayang dengan Eyang Karno sebagai sahabat. Dia tidak pernah mengumpat, mencaci, apalagi menyerang pribadi. Datuk kita cool saja. Tenang.

Gustika Sayang.
Ingin lebih panjang lagi aku tulis surat untukmu. Tapi sepertinya di era technology ini, ada baiknya kita membiasakan kembali tradisi lama keluarga kita. Berkumpul-kumpul di meja makan dan mematikan HP. Berbicara sembari menatap mata lawan bicara dan membagi cerita dalam canda tawa keluarga yang hangat.

Anggaplah ini undangan makan malam terhormat dari saudara laki-lakimu. Sepupumu yang tiba-tiba karena perjalanan hidup, harus kamu terima sebagai fakta. Sebagai sebuah kenyataan bahwa kita adalah saudara.

Salam
Miftah N Sabri (Tanpa Hatta di belakangnya)
Semoga Adikku Gustika faham moral story dari suratku ini.

Bung Hatta dan Sandiaga Ibarat Bumi dan Langit, PSI: Berhentilah Berfantasi Aneh

Disebut Mirip Bung Hatta, Sandiaga: Saya Ya Jauhlah Tapi Pemikirannya Dikembangkan

Cucu Bung Hatta Protes Kakeknya Disamakan Sandiaga Uno, Cawapres Prabowo Tanggapi Santai

Surat terbuka yang ditulis Miftah itu viral dan mendapat tanggapan dari keluarga Bung Hatta.

Dilansir TribunnewsBogor.com, Gustika Jusuf Hatta menyoroti penulisan nama kakeknya yang salah.

"Nulis Mohammad Hatta aja salah (emoji tertawa). Mungkin dia nulisnya lagi giting," tulis Gustika Jusuf Hatta di akun Twitternya, @Gustika, Sabtu (27/10/2018) malam.

Lebih lanjut, Gustika Jusuf Hatta menampilkan tanggapan keluarga yang ia peroleh dari WhatsApp keluarga.

Dalam percakapan tersebut, Meutia Hatta, putri pertama Bung Hatta menyampaikan pendapatnya.

Mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan di era SBY tahun 2004-2009 ini menyebut tulisan Miftah itu semakin menunjukkan dirinya tak mengenali sosok Bung Hatta dengan baik.

Tulisan panjang itu, lanjutnya, bermakna hampa lantaran sebatas cerita karangan.

"Dia tak sadar justru dia menunjukkan bahwa dirinya tidak kenal dengan Bung Hatta," tutur Meutia Hatta seperti dikutip TribunnewsBogor.com dari laman Twitter @Gustika, Minggu (28/10/2018).

"Cerita panjanganya tak berarti apa-apa, hampa, meaningless (tanpa arti), karean adia mengarang cerita sendiri," imbuhnya.

"Orang ini sok beri nasehat tapi terjerumus sendiri," tulis Meutia Hatta.

Tak hanya itu, Meutia Hatta juga menyebutkan bahwa Miftah N Sabri ini hanya sedang cari muka ke Gerindra.

"Carmuk ke Gerindra pula, benar-benar cari kesempatan," lanjutnya.

Lantas, Meutia Hatta pun membandingkannya dengan sosok Gustika, cucu Bung Hatta dari anak bungsunya Halida Hatta.

Menurutnya, Gustika jauh lebih maju dalam pemikiran.

Lebih lanjut, Meutia Hatta menerangkan pihaknya tak akan membalas surat terbuka tersebut. (TribunJakarta.com/TribunnewsBogor.com, Uyun)

cuitan Gustika soal <a href='https://jakarta.tribunnews.com/tag/surat-terbuka' title='surat terbuka'>surat terbuka</a> politisi Gerindra, <a href='https://jakarta.tribunnews.com/tag/miftah' title='Miftah'>Miftah</a> N Sabri

cuitan Gustika yang melampirkan pernyataan Meutia Hatta, anak <a href='https://jakarta.tribunnews.com/tag/bung-hatta' title='Bung Hatta'>Bung Hatta</a>
cuitan Gustika yang melampirkan pernyataan Meutia Hatta, anak Bung Hatta (twitter @Gustika)
Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved