Fuzhou China Open 2018
Fuzhou China Open; 16 Wakil Indonesia, Christie Jaga Pola Makan, Permainan Ginting Sudah Terbaca
Indonesia mengirimkan 16 wakil pada turnamen Fuzhou China Open 2018 yang berlangsung Haixia Olympic Sports Center, Fuzhou, China, 6-11 November 2018
Penulis: Erik Sinaga 2 | Editor: Erik Sinaga
Jonatan Christie menyatakan bahwa waktu persiapan untuk Fuzhou China Open 2018 tergolong sempit.
Ia pun mengaku hanya memiliki waktu beberapa hari untuk melakukan persiapan.
"Saya rasa semua pemain mengalami, bukan hanya kami, semua pemain negara lain juga merasakan ini," kata Jonatan Christie.
"Main dengan perbedaan waktu dan persiapan kurang dari seminggu. Kami harus pintar-pintar jaga dari pola makan dan istirahat," ucap pemain 21 tahun itu.
Selain Jonatan Christie, pemain tunggal putra Indonesia yang ikut ke Fuzhou China Open 2018 ialah Anthony Sinisuka Ginting.
Berdasarkan hasil undian, Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting berpeluang untuk berjumpa pada babak kedua.
Namun, Anthony harus lebih dulu menghadapi Qiao Bin (China), sedangkan Jonatan melawan Prannoy Haseena Sunil Kumar (India).

Permainan Anthony Ginting Mulai Terbaca Lawan
Asisten pelatih sektor tunggal putra PBSI, Irwansyah, menyebut permainan Anthony Sinisuka Ginting sudah mulai terbaca oleh lawannya.
Hal itu tergambar dari performa Anthony pada dua turnamen bulu tangkis Eropa yang dia ikuti yakni Denmark Open dan French Open 2018.
Pada Denmark Open 2018, Anthony Sinisuka Ginting sudah tersingkir pada babak pertama setelah kalah 18-21, 23-21, 15-21 dari Momota.
Adapun saat French Open 2018, Anthony Sinisuka Ginting dikalahkan pebulu tangkis Thailand, Kantaphon Wangcharoen, dengan skor 20-22, 12-21.
Irwansyah pun berharap Anthony Sinisuka Ginting bisa belajar dari dua turnamen terakhir demi mencapai hasil terbaik pada Fuzhou China Open 2018.
"Waktu di Denmark Open, permainannya terbaca oleh (Kento) Momota, di gim ketiga dia terbawa permainan Momota," ujar Irwansyah yang dikutip BolaSport.com dari Badminton Indonesia.
"Pada French Open, saat serangannya tak berhasil menembus Kantaphon (Wangcharoen), Anthony masih ada keraguan, dan akhirnya dia tidak sabar. Dia di bawah tekanan dan melakukan kesalahan sendiri," tutur dia.