Kisah Mulyono Jadi 'Driver 001' Gojek: Diancam Golok Hingga Anak Diberi Nama Mirip Nadiem Makarim
Mulyono (52), mungkin nama yang asing bagi masyarakat. Ternyata ia nerupakan driver Gojek pertama di Indonesia.
Penulis: Nawir Arsyad Akbar | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Saat itu, karena belum banyaknya pengemudi ojek online yang berseliweran di DKI Jakarta dan sekitarnya, membuat Mulyono mendapat berbagai intimidasi, khususnya dari para pengemudi ojek pangkalan.
Intimidasi yang paling menakutkan baginya adalah saat dirinya diancam menggunakan golok, oleh sejumlah tukang ojek pangkalan.
"Kami sering banget diintimidasi sama (pengemudi) opang-opang. Saya pernah ditimpuk, saya di Graha Raya pernah dikalungin golok. Tapi saya pasrah, saya mencari nafkah dan tidak mengganggu," ujar Mulyono.
Bahkan dirinya pernah dikejar segerombolan tukang pangkalan, saat ia menerima pesanan di Cikarang, Kabupaten Bekasi.
Meski menghadapi berbagai intimidasi, masalah, dan rintangan, menurutnya menjadi mitra atau pengemudi ojek online juga membuat dirinya menemui berbagai pengalaman yang mengesankan.
Salah satu pengalaman yang berkesan bagi dirinya adalah saat perhelatan Asian Games 2018 di Jakarta, dimana ia mengantar seorang perempuan warga negara asing (WNA) ke bilangan Cinere, Depok.
Saat menjemput WNA tersebut, Mulyono menemui pelanggannya terlihat sedang menangis di kawasan Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat.
"Itu customer saya jemput dengan menangis, saya kan bingung. Saya bilang 'Kenapa Miss?'. Jadi sudah lebih dari dua jam dia order GOJEK, tidak ada yang ambil, karena mungkin jauh, sekitar 15 kilometer dari GBK. Akhirnya saya ambil, intinya itu customer merasa berterima kasih sekali, karena saya antar sampai tujuan," ujar Mulyono.
Menjadi pengemudi ojek online GOJEK rupanya tidak hanya meninggalkan kesan suka dan duka bagi Mulyono.
Pria berusia 52 tahun tersebut mengaku, bahwa sejak beralih profesi menjadi ojek online, perekonomian keluarganya menjadi lebih baik.
Khususnya saat aplikasi GOJEK sangat populer di masyarakat dan belum ada kompetitor ojek online lainnya, pada bilangan 2012 hingga 2014
"Dengan tarif Rp 4.000 per kilo (meter), wah luar biasa, sejahtera. Ya (penghasilan terbesar) di kisaran Rp 6 juta sampai Rp 7 juta," ujar Mulyono.
Bahkan lewat profesinya sebagai ojek online, dirinya mendapatkan telepon genggam baru dari Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.
"Senang sekali menerima hp dari Pak Menteri, kebetulan pagi tadi hp saya pecah karena jatuh. Tahunya malah dapat rezeki kaya gini," ujar Mulyono.
Sebagai orang yang telah menggeluti profesi sebagai pengemudi ojek online lebih dari 8 tahun, Mulyono tentu sudah banyak merasakan asam garam dari pekerjaan tersebut.