Penderita DBD di Kota Bekasi Bertambah, Satu Orang Meninggal Dunia
Angka itu meningkat setelah sebelumnya pada periode yang sama, jumlah pasien belum direkap secara keseluruhan hingga akhir bulan.
Penulis: Yusuf Bachtiar | Editor: Wahyu Aji
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar
TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI SELATAN - Dinas Kesehatan Kota Bekasi mencatat pasien penderita demam berdarah dengue (DBD) di wilayah setempat bertambah dari yang semula 75 orang menjadi 128 orang selama periode Januari 2019.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Kota Bekasi, Dezi Syukrawati mengatakan, angka itu meningkat setelah sebelumnya pada periode yang sama, jumlah pasien belum direkap secara keseluruhan hingga akhir bulan.
Dari 128 pasien penderita DBD di Kota Bekasi, satu orang dikabarkan meninggal dunia. Ia tidak menjelaskan secara detail identitas pasien.
Namun, menurut laporan yang ia terima, pasien tersebut memilih pulang saat kondisinya belum dinyatakan membaik.
"Pasien itu meminta pulang dengan alasan merasa sudah baik, padahal saat itu pihak dokter yang menangani belum menganjurkan pasien yang bersangkutan pulang karena kondisinya belum sehat," kata Dezi, Rabu, (6/2/2019).
• Dinas Kesehatan Masih Investigasi, Wali Kota Depok Sebut Warga yang Terjangkit DBD Menurun
Dia menambahkan, Dinkes Kota Bekasi menghimbau untuk masyarakat khususnya pasien DBD agar patuh terhadap instruksi dokter dan tidak memaksa pulang dari rumah sakit jika belum mendapat izin atau dinyatakan mambaik oleh dokter.
"Kalau dokter belum menyatakan sehat jangan memaksakan pulang, karena dokter tahu kondisi pasiennya, apakah sudah membaik, atau layak jika dilakukan tindakan rawat jalan, dan sebagainya," katanya.
Sementara itu, jika dilihat secara letak wilayah, kecamatan yang paling banyak ditemukan kasus DBD berada di wilayah Kecamatan Jatiasih sebanyak 35 kasus, disusul Kecamatan Mustikajaya 22 kasus, dan Kecamatan Jatisampurna 13 kasus.
Adapun faktor meningkatnya kasus DBD disebabkan kondisi cuaca yang kerap diguyur hujan sehingga menimbulkan genangan air yang menjadi pemicu berkembangnya nyamuk aedes aegypti.
"Cuaca memang yang mejadi faktor utama penyebab meningkatnya DBD, karena banyak genangan air yang tidak segera dibersihkan setelah hujan jadi pemicu sarang nyamuk," ucapnya.
Untuk itu, pihaknya terus melakukan kordinasi dengan Lurah dan Camat untuk menginstruksi warga agar melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara rutin dengan cara kerja bakti meliputi gerakan 3M plus.
Adapun 3M plus yaitu, menguras atau membersihkan tempat yang sering dijadikan penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air atau genangan.
Lalu menutup rapat tempat-tempat seperti drum, toren air, ketiga memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk berkembang biak dan menimbulkan wabah penyakit DBD.
"Langkah plus-nya adalah menaburkan bubuk larvasida, atau biasa disebut bubuk abate, atau bisa juga memelihara ikan yang bisa memakan jentik nyamuk," jelas dia.