Aktivis Lingkungan Kamping di Gunung Sampah Cipeucang, Ini Alasannya

Pada tragedi tragis itu, letusan sampah memakan ratusan korban jiwa. Bahkan, ada dua kampung yang hilang akibat dari letusan gunung sampah tersebut.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir | Editor: Kurniawati Hasjanah
Dokumentasi Yapelh
Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2019, Yayasan Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (Yapelh) Indonesia kamping di area gunung sampah tempat pembuangan akhir (TPA) Cipeucang, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), pada Rabu (20/2/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG SELATAN - Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2019,
Yayasan Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (Yapelh) Indonesia kamping di area gunung sampah tempat pembuangan akhir (TPA) Cipeucang, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), pada Rabu (20/2/2019).

Kamping tersebut diikuti tukuh orang dari kelompok aktivis pecinta lingkungan: Bank Sampah Sungai Cisadane, Cisadane Ranger Patrol, Suci Daya Pendaki Indonesia Korwil Tangerang, Komunitas Pendaki Indonesia Korwil Jakarta Raya, Komunitas Pendaki Gunung Indonesia Korwil Jabodetabek dan Komunitas pendaki Indonesia Korwil Medan.

Mereka tidur semalaman di area gunung sawah sambil membentangkan spanduk bertuliskan, ”STOP! PELECEHAN TERHADAP UU 32. TAHUN 2009 DAN UU NO.26 TAHUN 2007."

Dikonfirmasi TribunJakarta.com pada Jumat (22/2/2019), koordinator Yapelh Indonesia, Herman Felani, mengatakan, kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap tahunnya untuk memperingati tragedi letusan gunung sampah yang terjadi di TPA Lewuigajah 14 tahun silam.

Sederet Rekomendasi Warung Ayam Geprek Hits di Yogyakarta, Harga Mulai Rp 12 Ribu

Foto Prewedding Irish Bella Pakai Adat Minang, Dari Berwajah Serius Hingga Rangkul Tangan Ammar Zoni

Sebut Ada yang Ingin Gagalkan Pemilu, Mahfud MD Singgung Pembakaran Mobil di Jateng hingga Ahok

Pada tragedi tragis itu, letusan sampah memakan ratusan korban jiwa. Bahkan, ada dua kampung yang hilang akibat dari letusan gunung sampah tersebut.

"Oleh sebab itu, kami mendesak terhadap Pemerintah daerah Kota Tangerang Selatan dan Pemerintah Provinsi Banten untuk segera mencarikan solusi terhadap TPA Cipeucang yang berdiri gagah di bibir sungai Cisadane tersebut, jangan sampai kejadian yang pernah terjadi pada 14 tahun silam di TPA lewuigajah terulang kembali,” terang Herman.

Yapelh menganggap kondisi TPA Cipeucang sudah mempriharinkan dan tidak ramah lingkungan.

Rimbunan pohon yang dulu tumbuh membatasi gunung sampah dengan sungai Cisadane, kini sudah gundul.

“Sehingga ketika air sungai Cisadane meluap sampah yang ada dibibir sungai terbawa arus hingga ke hilir sungai Cisadane. Hal itu terjadi karena tidak adanya pagar pembatas antara gunung sampah dengan sungai,” jelasnya.

Herman mengatakan, seharusnya Pemkot Tangsel menutup TPA Cipeucang tersebut sejak enam tahun yang lalu, karena menggunakan sistem pengelolaan sampah “open dumping”.

Sistem tersebut sudah tidak diperbolehkan lagi dalam Undang - Undang No18 tahun 2008 tentang Pengelolaan sampah.

“Kami mempunyai pemikiran mungkin pemkot Tangsel akan menciptakan wahana baru berupa tempat kunjungan wisata sampah ataupun ingin menciptakan gunung sampah yang secara kebetulan di indonesia belum ada, sehingga akan mendatangkan turis lokal maupun turis dari mancanegara,”
ujarnya.

Sementara Fale Wali salah seorang koordinator komunitas Pendaki Gunung Indonesia korwil Jabodetabek, mengkritisi Pemkot Tangsel dengan menyebut kondisi pepohonan di Cipeucang.

“Karena bukan hanya anggota kami saja yang merasakan bau busuk yang timbul dari gunungan sampah tersebut melainkan tumbuh-tumbuhan berupa pepohonan perdu pepohonan besar lainnya dimana, di ranting pohon tersebut terdapat banyak sampah yang tersangkut sehingga menambah indahnya
pemandangan,” ujar Fale sambil tertawa.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved