Korban DBD Meninggal di Jakarta Timur Sempat Menolak Dibawa ke Rumah Sakit

Asril mengaku tak mengetahui pasti alasan warganya itu menolak diajak ke RS, menurutnya pilihan tersebut merupakan hak keluarga korban.

Korban DBD Meninggal di Jakarta Timur Sempat Menolak Dibawa ke Rumah Sakit
Tribunnews.com/net
Nyamuk demam berdarah 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Satu warga Kelurahan Rawa Bunga, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur yang merupakan pasien demam berdarah dengue (DBD) meninggal saat menjalani perawatan di satu rumah sakit (RS).

Camat Jatinegara Asril Rizal mengatakan pihak Puskesmas Kecamatan Jatinegara telah berupaya mengajak korban berobat ke RS agar mendapat penanganan medis, namun ajakan tersebut ditolak keluarga korban.

"Kalau menurut informasi dari Puskesmas, bahwa yang bersangkutan juga saat itu sudah dikunjungi pihak Puskesmas. Namun yang bersangkutan ini ketika diajak ke UGD beliau keluarganya menolak semua," kata Asril di Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (26/3/2019).

Asril mengaku tak mengetahui pasti alasan warganya itu menolak diajak ke RS, menurutnya pilihan tersebut merupakan hak keluarga korban sehingga tak dapat dipaksa.

Dia hanya menyebut warga Kelurahan Rawa Bunga yang berusia 29 tahun itu meninggal saat menjalani perawatan di satu RS akhir Februari 2019 lalu.

"Alasannya ya pihak keluarga. Dari Puskesmas sudah datang, sudah siap untuk membawa cuman enggak mau. Meninggalnya di rumah sakit, akhir Februari," ujarnya.

Sebelum Hadiri Rapat Paripurna, Anies Temui Ketua DPRD DKI di Ruangannya

Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Dwi Oktavia menjelaskan fase kritis penderita DBD berada di rentan hari keempat hingga keenam.

Dalam beberapa kasus, kondisi pasien yang memburuk dengan cepat membuat penanganan medis yang dilakukan tak berhasil hingga akhirnya pasien meninggal.

"Memang pada fase kritis itu tiba-tiba langsung menurun dengan cepat sekali kondisi pasiennya. Jadi dikejar dengan terapi, infus sampai dua jalur kemungkinan bisa sampai tidak tertolong," tutur Dwi.

Penanganan jadi lebih sulit bila pasien juga menderita penyakit lain atau terjadi komplikasi, pasalnya komplikasi penyakit sulit dideteksi sehingga menganggu pengobatan.

Merujuk data Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dari bulan Januari sampai sekarang tercatat dua warga DKI pasien DBD meninggal, keduanya merupakan warga Jakarta Timur.

"Salah satu yang susah diidentifikasi dari awal kalau terjadi komplikasi berat. Jadi DBD menyebabkan gejala berat dan penurunan kondisinya cepat sekali," katanya.

Penulis: Bima Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved