Pasangan Married by Accident Sumbang 30 Persen Perceraian di Jakarta Barat

Selain berasal dari pasangan MBA, Hadi menyebut media sosial juga kerap menjadi puncak dari keretakan rumah tanggga pasangan suami istri.

Pasangan Married by Accident Sumbang 30 Persen Perceraian di Jakarta Barat
TRIBUNJAKARTA.COM/ELGA HIKARI PUTRA
Juru Bicara Pengadilan Agama, Jakarta Barat, Abdul Hadi 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Elga Hikari Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KEMBANGAN - Pasangan muda yang menikah karena 'kecelakaan' atau hamil di luar nikah menjadi salah satu faktor meningkatnya jumlah perceraian.

Di Pengadilan Agama Jakarta Barat misalnya, dari 4.884 pasangan yang bercerai pada tahun 2018 hingga maret 2019, hampir 30% diantaranya dilakukan pasangan yang MBA atau married by accident.

"Kalau dilihat dari latar belakangnya, banyak yang bercerai itu dari pasangan muda yang nikah karena hamil duluan," ujar Juru Bicara Pengadilan Agama Jakarta Barat, Abdul Hadi di kantornya, Selasa (9/4/2019).

Selain berasal dari pasangan MBA, Hadi menyebut media sosial juga kerap menjadi puncak dari keretakan rumah tanggga pasangan suami istri.

Dirinya mencontohkan, tak sedikit pasangan yang memutuskan bercerai setelah mengetahui bahwa pasangannya berselingkuh setelah ia mengecek media sosial atau ponsel pasangannya.

873 Gugatan Perceraian Ditangani Pengadilan Agama Jakarta Pusat Sepanjang 2019

"Misalnya istri itu melihat atau membuka ponsel suaminya dan melihat ada percakapan mesra dengan wanita lain. Itu menjadi puncak kemarahan dia hingga akhirnya bercerai," kata Hadi.

Tahun ini meningkat

Tren perceraian di Jakarta Barat hingga awal April 2019 alami peningkatan dibanding periode yang sama pada tahun lalu.

Hingga saat ini untuk tahun 2019 tercatat sudah ada 1.601 pasangan yang bercerai di Pengadilan Agama Jakarta Barat.

"Perbandingannya itu sekitar tiga banding empat antara tahun lalu dan tahun ini," kata Hadi.

Belum Ada yang Bercerai Karena Beda Pilihan Politik

Kendati tren perceraian meningkat, Hadi menyebut belum ada pasangan yang bercerai karena berbeda pandangan politik.

Dikatakannya, penyebab perceraian masih berkaitan masalah klasik yakni soal perbedaan komitmen hingga alasan ekonomi.

"Perceraian itu adalah puncak dari banyaknya ketidakcocokan diantara pasangan. Namun untuk yang alasannya karena beda pandangan politik sampai saat ini belum ada untuk yang kami tangani disini," kata Hadi.

Penulis: Elga Hikari Putra
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved