Protes Pungli di Sekolah Tempat Bekerja, Guru Honorer SD di Tangsel Diintimidasi dan Dipecat Sepihak

Pengajar mata pelajaran kesenian itu mengaku gemas melihat berbagai kebijakan sekolah yang selalu membebankan biaya kepada para murid.

Protes Pungli di Sekolah Tempat Bekerja, Guru Honorer SD di Tangsel Diintimidasi dan Dipecat Sepihak
TRIBUNJAKARTA.COM/JAISY RAHMAN TOHIR
Rumini, mantan guru honorer SDN Pondok Pucung 02 Tangerang Selatan, di kediamannya di bilangan Jakarta Selatan, Kamis (27/6/2019). 

"2016 enggak ada lagi pengajaran komputer, terus 2017 itu ada Bu Ayu yang ngajar. Guru baru ngajar komputer sama bahasa inggris," ujarnya.

Para siswa membayar uang komputer itu dengan tanda bayaran berupa kartu biru.

Bahkan para siswa yang belum membayar uang komputer itu tidak diperbolehkan mengambil rapor.

"Malah kalau belum bayar yang kelas enam enggak boleh ambil ijazah," ujarnya.

Tak hanya itu, para siswa juga dibebankan biaya kegiatan sekolah sebesar Rp 130 ribu per tahun untuk acara seperti Tujuh Belasan, Kartinian dan lain-lain.

Sejumlah wali murid enggan membayar uang kegiatan itu.

Pihak sekolah pun tak habis akal, dan mencoba menarik uang lagi dengan embel-embel uang daftar ulang.

Rumini makin geram. Ia yang ada saat pembicaraan itu dilontarkan pun melawan.

"Bapak jangan kaya gitu, seumur-umur mana ada biaya daftar ulang. Waktu itu saya gebrak habis-habisan," ujarnya.

Pada tahun 2018, sekolah itu hendak mengadakan infokus atau proyektor.

Halaman
1234
Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved