Cerita Untung dan Teti: Sepasang Suami Istri Mulung Sambil Ngamen Keliling Jalan

"Kalau mulung biasanya hanya Rp 50 ribu sehari, tapi kalau sambil mengamen gini bisa kisaran Rp 100 sampai Rp 150 ribu," ujarnya

Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas
Untung dan Teti pemulung sambil ngamen di wilayah Cikini pada Senin (29/7/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, MENTENG - Suara melodi dari gerobak yang ditarik Untung (44) terdengar bersahut-sahutan dengan deru mesin kendaraan di Jalan Rp Soeroso, Menteng, Jakarta Pusat.

Sementara, Teti (48), istrinya, meniti jalan di atas trotoar demi mengais rezeki sambil bernyanyi menggunakan mikrofon yang digenggamnya.

Untung dan Teti pemulung sambil ngamen di wilayah Cikini pada Senin (29/7/2019).
Untung dan Teti pemulung sambil ngamen di wilayah Cikini pada Senin (29/7/2019). (TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas)

Ia berjalan bersama Untung keliling ditemani oleh Nazwar (9), anak ketiganya, yang duduk di dalam gerobak.

Sebenarnya, mereka berdua bukanlah seorang penyanyi karaoke keliling melainkan pemulung yang mengambili aneka sampah bekas yang bisa didaur ulang ke dalam gerobak.

Namun, Untung dan Teti merasa pemasukannya sebagai pemulung tak mampu mencukupi hidupnya sehari-hari.

Teti rela bernyanyi sambil memulung bersama suaminya yang menarik gerobak berisi dua pengeras suara.

"Kalau mulung biasanya hanya Rp 50 ribu sehari, tapi kalau sambil mengamen gini bisa kisaran Rp 100 sampai Rp 150 ribu," ujarnya kepada TribunJakarta.com pada Senin (29/7/2019).

Biaya tinggal Teti dan Untung di kontrakan dibayarkan dari hasil dari mengamen di jalan raya.

"Kalau enggak sampai ngamen, saya enggak bisa bayar kontrakan, buat kebutuhan sehari-hari. Soalnya kalau mulung aja enggak melulu dapat Rp 50 ribu kan. Kadang cuma Rp 10 ribu atau Rp 20 ribu," terangnya.

Di gerobaknya, terdapat satu buah pemutar musik dan dua buah pengeras suara.

Sementara di paling bawah terdapat genset untuk penambah daya listrik yang masih diangsurnya oleh seseorang.

Apabila musik berhenti, bunyi getaran genset terdengar keras.

Mikrofon tanpa kabel yang digenggamnya membuat Teti mudah memasuki teras tiap-tiap rumah dengan menyodorkan plastik berisi uang recehan.

"Dulu punya mikrofon yang kabel terus kelindes ban dan putus. Akhirnya ada seorang kenalan yang ngasih mikrofon ke saya," bebernya.

Di dalam gerobak turut duduk Nazwar (9) yang ikut berkeliling Untung dan Teti menelusuri jalan raya.

Kemudian kedua tangannya yang kurus menarik gerobak itu dibantu oleh badannya yang terselempang tali tambang di belakang gerobak.

"Saya keliling berjalan kaki dari Manggarai, ke Glodok, sampai ke Thamrin. Sudah saya lakukan seperti ini selama sembilan tahun," ungkapnya.

Bawa Anak Putus Sekolah

Untung dan Teti pemulung sambil ngamen di wilayah Cikini pada Senin (29/7/2019).
Untung dan Teti pemulung sambil ngamen di wilayah Cikini pada Senin (29/7/2019). (TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas)

Selama mengamen sambil memulung, Teti dan Untung membawa Nazwar berkeliling.

Anak ketiganya itu mengaku belum pernah mengenyam bangku sekolah hingga usianya kini sembilan tahun.

"Belum sekolah, karena Nazwar harus ikut saya keliling nyari uang, dua kakaknya di desa nyari kerja. Saya enggak berani tinggalin sendiri di rumah," kata Teti.

Setiap Untung memulung, Nazwar menunggu di dalam gerobak.

"Jangan sampai dia terculik meski saya sering tinggalin dia mulung," ujarnya.

Teti dan Untung pun juga belum secara resmi menikah lantaran buku nikah tak kunjung diterimanya dari KUA.

Tetap Beribadah

Meski hanya bekerja sebagai pemulung, Untung dan Teti tetap menjalankan ibadah.

Ia tetap bersyukur menjalani pekerjaannya menjadi pemulung untuk menyambung hidup.

"Saya syukuri saja meski hanya jadi pemulung tapi tetap ingat beribadah ke Masjid saat mulung dan ngamen," lanjutnya.

Mereka sempat terlibat cekcok dengan Satpol PP yang mengira mau mengemis di masjid.

Dinobatkan Sebagai Duta Anti Kekerasan Terhadap Wanita dan Anak, Ini yang Akan Dilakukan Cinta Laura

Mulai Hari Ini, Paskibraka 2019 Latihan PBB di Lapangan Rumput

Korban Pelecehan Seksual Anak di Bawah Umur Melalui Game Online di Bekasi Berjumlah 6 Orang

"Saya sempat berantem sama Satpol PP, orang niatnya mau salat tapi dihalang-halangi kirain mau mengemis," katanya.

Saat sedang mengais sampah, Teti sempat didekati oleh seorang pemakai narkoba.

"Kok, ibu sama bapaknya bisa tetap berhenti ke masjid dan salat meski kerja jadi pemulung. Saya baru ngelihat dan ngerasa terharu," kenang Teti.

Foto: Untung dan Teti pemulung sambil ngamen di wilayah Cikini pada Senin (29/7/2019).

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved