Mengenal WR Soepratman, Pencipta Indonesia Raya yang Dinyanyikan 17 Agustus
Kemeriahan kemerdekaan sudah terlihat dari banyaknya umbul-umbul merah putih yang dipasang dimana-mana.
TribunJogja.com mengutip dari Antara, saat kecil sang maestro ini mengalami tindak kekerasan oleh ayahnya, yang merupakan seorang tentara KNIL.
Lalu pada 1912, ibunda tercinta meninggal dunia.
Ia kemudian diajak kakaknya, Roekijem, yang bersuamikan orang Belanda, untuk merantau ke Makassar.
Oleh kakak iparnya, ia diajari tentang musik, sehingga piawai dalam membuat lagu dan memainkan alat musik.
Dilansir dari Wikipedia Wage Rudolf Soepratman adalah anak ketujuh dari sembilan bersaudara.
Ayahnya bernama Djoemeno Senen Sastrosoehardjo, seorang tentara KNIL Belanda, dan ibunya bernama Siti Senen.
Kakak sulungnya bernama Roekijem.
Pada tahun 1914, Soepratman ikut Roekijem ke Makassar.
Di sana ia disekolahkan dan dibiayai oleh suami Roekijem yang bernama Willem van Eldik.
Soepratman lalu belajar bahasa Belanda di sekolah malam selama tiga tahun, lalu melanjutkan ke Normaalschool di Makassar hingga selesai.
Ketika berumur 20 tahun, ia menjadi guru di Sekolah Angka 2.
Dua tahun selanjutnya ia mendapat ijazah Klein Ambtenaar.
Beberapa waktu lamanya ia bekerja pada sebuah perusahaan dagang.
Dari Makassar, ia pindah ke Bandung dan bekerja sebagai wartawan di harian Kaoem Moeda dan Kaoem Kita.
Pekerjaan itu tetap dilakukannya walaupun ia telah pindah ke Jakarta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/gedung-joang-45_20180816_155736.jpg)