Mengenal WR Soepratman, Pencipta Indonesia Raya yang Dinyanyikan 17 Agustus

Kemeriahan kemerdekaan sudah terlihat dari banyaknya umbul-umbul merah putih yang dipasang dimana-mana.

Editor: Kurniawati Hasjanah
TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melepas rombongan parade napak tilas proklamasi 45 dari Gedung Joang 45 Jakarta Pusat Kamis, (16/8/2018). 

Dalam masa tersebut, ia mulai tertarik pada pergerakan nasional dan banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan.

Rasa tidak senang terhadap penjajahan Belanda mulai tumbuh dan akhirnya dituangkan dalam buku Perawan Desa.

Buku itu disita dan dilarang beredar oleh pemerintah Belanda.

Soepratman dipindahkan ke kota Sengkang.

Di situ tidak lama lalu minta berhenti dan pulang ke Makassar lagi.

Roekijem sendiri sangat gemar akan sandiwara dan musik.

Banyak karangannya yang dipertunjukkan di mes militer.

Selain itu Roekijem juga senang bermain biola, kegemarannya ini yang membuat Soepratman juga senang main musik dan membaca-baca buku musik.

2. Menggubah Lagu

Saat dewasa, ia bekerja menjadi wartawan di harian Sin Po.

Soepratman tertarik untuk menciptakan lagu Indonesia Raya, setelah membaca tulisan dari sebuah majalah, yang menantang para ahli musik untuk membuat lagu kebangsaan.

Ia kemudian mulai menggubah lagu dan lagu Indonesia Raya lahir pada tahun 1924 di Bandung, saat ia masih berusia 24 tahun.

Sewaktu tinggal di Makassar, Soepratman memperoleh pelajaran musik dari kakak iparnya yaitu Willem van Eldik, sehingga pandai bermain biola dan kemudian bisa menggubah lagu.

Ketika tinggal di Jakarta, pada suatu kali ia membaca sebuah karangan dalam majalah Timbul.

Penulis karangan itu menantang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved