Breaking News:

Aksi Mengeluarkan Taman Nasional Kerinci Seblat dari Daftar Terancam Warisan Dunia

Taman Nasional Kerinci Seblat masuk dalam Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TRHS) sejak 2004.

Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Istimewa/Dokumentasi TNKS dan FFI-IP
Harimau Sumatera 

TRIBUNJAKARTA.COM -Taman Nasional Kerinci Seblat menjadi satu dari tiga taman nasional yang masuk dalam Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TRHS) sejak 2004 bersama dengan Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Ketiga kawasan tersebut menjadi bagian dari Warisan Alam Dunia (World Heritage Site) yang ada di Indonesia selain Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Komodo, dan Taman Nasional Lorentz.

Menurut Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Tamen Sitorus, TNKS menjadi salah satu taman nasional dengan hutan tropis yang tersisa dalam
menyumbang kehidupan, tidak saja untuk satwa yang ada di dalam kawasan. Namun juga untuk masyarakat yang ada di sekitar kawasan.

“Selain memiliki satwa penting dan prioritas yaitu Harimau Sumatera Panthera tigris sumatrae, Gajah Sumatera Elephas maximus sumatranus, Kelinci Sumatera Nesolagus
netscheri, Tapir Asia Tapirus indicus, Padma raksasa Rafflesia arnoldii, dan Cemara Sumatera Taxus sumatrana, kawasan ini juga menyimpan sumber air untuk kebutuhan
kehidupan mahluk hidup,” jelas Tamen dalam keterangan tertulis, Senin (5/8/2019).

Tamen menambahkan di sidang World Heritage Convention ke 35 pada 2011, Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Leuser, dan Taman Nasional Bukit Barisan
Selatan masuk dalam Daftar Warisan Dunia Dalam Bahaya atau List of World Heritage in Danger akibat banyaknya kerusakan dan ancaman berupa perambahan dan usulan
pembangunan jalan di dalam kawasan.

Faktor-faktor tersebut pada akhirnya akan dapat mengeluarkan ketiga taman nasional dari daftar warisan alam dunia bila tidak ditanggapi dengan serius.

Tidak tinggal diam, Pemerintah Indonesia membuat rencana aksi dalam mempercepat mengeluarkan dalam List of World Heritage in Danger.

Beberapa langkah diantaranya adalah melaksanakan Strategic Environmental Assessment (SEA) pada setiap rencana pembangunan atau peningkatan jalan di kawasan TRHS dan melaksanakan Environmental Impact Assessment (EIA) yang mengacu pada setiap jalan yang telah dibangun tanpa SEA.

Menurut Staf Direktorat Kawasan Konservasi Marlenni Hasan, bahwa tercatat delapan indikator, 10 tindakan perbaikan, dan 57 rencana aksi yang telah dilakukan pemerintah
dengan menyusun Desired State of Conservation (DSOCR) dan Emergency Action Plan (EAP).

“Tindakan yang perlu dilakukan antara lain tutupan hutan harus meningkat, meningkatnya populasi spesies fauna kunci, tidak ada pembangunan jalan baru, tidak ada kegiatan atau izin pertambangan, tata batas akurat dan tidak hilang, tersedianya tata kelola yang baik, melakukan patroli menggunakan SMART Patrol dengan jumlah kasus dan jumlah putusan pengadilan menurun, dan mempertahankan koridor satwa untuk spesies kunci yaitu spesies harimau, badak, gajah, dan orangutan,” tambah
Marlenni.

Agar sinergi aksi bisa diterapkan, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) bekerjasama dengan Sumatran Tiger Project dan Fauna & Flora International – Indonesia Programme melaksanakan Lokakarya “Inisiasi Penerapan Smart Green Infrastructure di Lanskap Taman Nasional Kerinci Seblat” pada selasa (30/7/2019) sebagai bagian dari upaya mengkomunikasikan pentingnya warisan dunia dan upaya yang perlu disiapkan jika pembangunan tidak terelakkan terjadi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved