Siswi SMK di Bekasi Merasa Takut dan Trauma Hingga Tak Mau Sekolah Setelah Dikeroyok Seniornya

GL (16) siswi salah satu SMK di Bekasi Timur masih merasa takut dan trauma usai jadi korban pengeroyokan oknum seniornya.

TRIBUNJAKARTA.COM/YUSUF BACHTIAR
GL (tengah) bersama kedua orangtuanya saat dijumpai di rumahnya di Bekasi Utara. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI UTARA - GL (16) siswi salah satu SMK di Bekasi Timur masih merasa takut dan trauma usai jadi korban pengeroyokan oknum seniornya.

Dia bahkan sering mengigau dan cenderung mengurung diri di dalam kamar.

Dara cantik anak ketiga dari tiga orang bersaudara pasangan suami istri Ali Sadikin dan Eko Susanti ini sempat mengurung diri di dalam kamar saat wartawan datang menjumpai kediamannya pada Rabu, (21/8/2019).

Namun, ia akhrinya mau keluar kamar dan bercerita terkait pengalaman pahit mejadi korban pengeroyokan.

GL mengaku sampai saat ini dia masih merasa takut dan enggan kemabali ke sekolah.

Kejadian pengeroyokan terjadi pada Rabu, (14/8/2019) sekitar pukul 13.00 WIB di sebuah taman dekat Polder Perumahan Danita di Jalan Irigasi, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Setelah kejadian itu, ia sempat masuk sekolah selama satu hari pada Jumat, (16/8/2019), tapi korban justru merasa tertekan dan trauma sehingga memilih untuk tidak sekolah sampai hari ini.

"Waktu masuk sekolah (setelah kejadian) diikutin terus sama si A (pelaku) dia kakak kelas, diliatin gitu enggak ngancem si cuma saya takut," kata GL.

Gara-gara Dituduh Pelakor, Pelajar Wanita di Bekasi Dikeroyok Seniornya

Ia saat itu juga belum melaporkan kejadian pengeroyokan kepada pihak guru maupun orangtuanya. Karena merasa tiak aman, GL malah tidak mau masuk ke sekolah dengan alasan sakit.

"Sering kepikiran, takut diluar diincar lagi, belum berani keluar makanya," ungkapnya.

Luka fisik akibat pengeroyokan sejauh ini sudah berangsur pulih, ketika ditanya apakah masih mau lanjut bersekolah ditempatnya saat ini, GL mengaku belum tahu sama sekali meski banyak teman kelas membujuk agar dia kembali masuk sekolah.

"Enggak tau dah (pindah sekolah), banyak (teman) yang nyuruh masuk juga, tapi masih takut, udah enggak sakit si cuma traumanya aja suka nyesek," jelas dia.

Sementara itu, Ali Sadikin orangtua GL mengatakan, anaknya setelah kejadian pengeroyokan memang cendrung lebih murung. Dia juga beberapa hari terakhir mengurung diri di dalam kamar. Bahkan, ketika tidur, anaknya kerap mengigau.

"Jadi sering ngigau, teriak-teriak gitu kaya orang nangis," ucapnya.

Pelaku pengeroyokan berinisial D, alumni sekolah tempat korban menuntut ilmu, A kakak kelas satu tingkat di atas korban dan satu pelaku lagi yakni P, berasal dari luar yang tidak memiliki kaitan dengan sekolah.

Aksi ini dipicu lantaran korban dituduh telah merebut kekasih atau suami dari pelaku D. Sumai atau kekasih D kata GL, beberapa waktu lalu sempat berusaha mendekati dan meminta nomor telepon melalui media sosial facebook.

Seorang Siswi di Bekasi Dikeroyok Seniornya, Video Tersebar Lewat WA

Hal ini rupanya diketahui pelaku D hingga membuat dia murka hingga terjadi aksi pengeroyokan.

Sampai akhirnya, D bersekongkol dengan pelaku lain untuk merencanakan aksi pengeroyokan. Ketika itu, korban diajak oleh seorang teman kelasnya ke sebuah warung, dari situ dia langsung ditemui oleh ketiga pelaku dan dibawa ke sebuah taman.

Seketika ketiga pelaku langsung menganiaya GL dengan cara dijambak, dicekik hingga didorong. Setelah itu, dari rekaman video terlihat korban duduk disebuah teras taman dan tiga orang pelaku menganiaya secara bergantian.

GL ditendang dibagian bahu sebelah kiri, lalu dipukul menggunakan sendal secara bertubi-tubi dan ditampar pada bagian pipi. Video berdurasi 30 detik itu memperlihatkan GL yang tidak berdaya dan menangis sambil tertunduk ketika senior mengeroyoknya.

Penulis: Yusuf Bachtiar
Editor: Wahyu Aji
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved