VIDEO Cerita Khaerul Mengeruk Untung di Hitamnya Kali Bekasi
Musim kemarau jadi fase terburuk kualitas air Kali Bekasi. Hitam pekat dan bau tidak sedap jadi pemandangan yang hampir setiap tahun terjadi.
Penulis: Yusuf Bachtiar | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar
TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI SELATAN - Musim kemarau jadi fase terburuk kualitas air Kali Bekasi.
Hitam pekat dan bau tidak sedap jadi pemandangan yang hampir setiap tahun terjadi di Kali Bekasi.
Kondisi ini akibat pencemaran limbah domestik dan aktivitas industri disepanjang aliran kali dari hulu di wilayah Kabupaten Bogor.
Namun, hitam pekat dan bau tidak sedapnya Kali Bekasi rupanya bukan sebuah bencana yang berarti bagi Khaerul (40), tukang jala yang biasa mencari ikan di sepanjang aliran kali.
Menurut dia, kondisi ini justru bisa dibilang sedikit menguntungkan bagi dia yang hidup bergantung dari hasil tangkapan ikan.
Ayah tiga orang anak ini saat dijumpai di Bendungan Presdo, Jalan Mayor M. Hasibuan, Kota Bekasi tengah sibuk memanen ikan sapu-sapu hasil tangkapan di Kali Bekasi.
Kondisi kali yang hitam pekat dan menimbulkan bau tidak sedap rupanya bukan jadi penghalang bagi dia untuk tetap mencari nafkah.
Khaerul menilai, kondisi seperti ini justru lebih menguntungkan ketimbang air kali dalam keadaan normal.
Sebab, tukang jala ikan seperti dirinya tidak perlu susah-susah nyemplung ke dalam kali untuk menjala ikan.
"Lebih gampang justru kalo air lagi kaya gini, kalau misalnya air banyak (kondisi normal) justru susah dapetnya," kata Khaerul, Rabu (21/8/2019).
Musim kemarau memang membuat debit air Kali Bekasi berkurang, di Bendungan Presdo misalnya, saat musim penghujan air akan mengalir lebih deras sehingga ikan akan lebih sulit ditangkap.
Ditambah kondisi air Kali Bekasi yang tercemar limbah membuat ikan sapu-sapu lemas dan sulit bergerak.

Khaerul tidak perlu menjala hingga ke tengah kali, cukup melempar dari bibir sungai, puluhan ikan yang sudah tak berdaya dengan sangat mudah ia dapat.