Kisah Bocah 10 Tahun Setiap Hari Mendayung Sampan di Danau Batur ke Sekolah, Absen Saat Musim Hujan
Gede Agus Wardika (10) harus berjuang menuju sekolahnya setiap hari. Gede harus jalan kaki ke sekolah atau naik sampan melintasi Danau Batur.
TRIBUNJAKARTA.COM, BALI - Gede Agus Wardika (10) harus berjuang menuju sekolahnya setiap hari.
Siswa asal Banjar Madya jalan kaki ke sekolah atau naik sampan melintasi Danau Batur.
Tidak ada akses jalan yang bisa dilintasi sepeda motor dari Banjar Madya menuju Banjar Terunyan.
Warga harus memutar lewat Karangasem.

Setelah memakai seragam sekolah dan mengambil tas berisi buku pelajaran, Gede Agus bergegas menuju tepian Danau Batur, Kabupaten Bangli.
Dia melepas tambatan lalu melompat masuk ke dalam sampan kecil.
Tangan mungilnya lincah mendayung, mendorong sampan melaju di atas permukaan danau yang tenang menuju ke seberang.
Saban hari dia naik sampan melintasi Danau Batur menuju ke sekolah lantaran tidak ada akses melalui jalur darat.
Anak pertama pasangan Putu Wardana dan Ni Nengah Sudiani ini murid SD Negeri 1 Terunyan.
Selama dua tahun terakhir, Agus selalu naik sampan menuju ke sekolahnya.
Maklum dia tinggal bersama orangtuanya di pondokan Waru.
Letak pondokan itu terpisah dari permukiman warga lain, meskipun masih berada dalam satu wilayah Banjar Terunyan.
“Kalau berangkat sekolah awal-awalnya diantar bapak. Tapi sejak kelas II SD saya berangkat sendiri,” katanya kepada Tribun Bali, Rabu (4/9/2019).
Agus tiap hari harus bangun pagi lebih awal.
Sebab untuk menuju sekolah paling tidak ia membutuhkan waktu selama 30 menit.