Operasional Pabrik Dihentikan, Begini Curhat dan Tangis Pengusaha Arang di Cilincing

Pengusaha arang di Jalan Cakung Drain, RW 09 Kelurahan Cilincing masih belum tenang pascaoperasional lapak mereka dihentikan.

TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
Khoriah (49), salah satu pemilik lapak arang di RW 09 Cilincing, menangis melihat lapaknya dibongkar, Kamis (19/9/2019). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, CILINCING - Pengusaha arang di Jalan Cakung Drain, RW 09 Kelurahan Cilincing, Cilincing, Jakarta Utara, masih belum tenang pascaoperasional lapak mereka dihentikan.

Ditertibkannya 23 lapak arang pada hari ini membuat para pengusaha kelimpungan mencari sumber pendapatan.

Banyak dari mereka yang belum tahu akan ke mana setelah tidak bisa lagi mengolah batok kelapa menjadi arang untuk dijual.

Khoriah (49), pengusaha arang yang sudah 10 tahun membuka lapak di sana, sempat meratapi penertiban lapaknya tadi.

Para pekerja membongkar cerobong asap secara mandiri dari lapak pembakaran arang di Jalan Inspeksi Cakung Drain, RW 09, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (19/9/2019).
Para pekerja membongkar cerobong asap secara mandiri dari lapak pembakaran arang di Jalan Inspeksi Cakung Drain, RW 09, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (19/9/2019). (TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino)

Kemudian ia menangis tersedu-sedu memikirkan langkah selanjutnya.

"Kalau dibongkar begini saya mau makan apa pak. Ngelihatnya itu sedih sekali," kata Khoriah, Kamis (19/9/2019).

Pelan-pelan tangisan Khoriah reda. Namun matanya masih menatap lapak arangnya yang kondisinya masih utuh, meskipun bagian depannya sempat disobek dan cerobong asapnya sudah dibongkar.

Khoriah mengaku akan tetap bertahan sambil menunggu solusi dari pemerintah setempat.

Wanita asli Surabaya itu belum mau pulang kampung. Terlebih karena ia belum punya modal.

"Saya istirahat aja, masih di sini. Tidurnya ya di dalam situ, ada kasur di belakangnya," kata Khoriah.

Khoriah sendiri menjadi pengusaha arang sejak 2009. Ia mengaku sebagai penerus kedua usaha yang sebelumnya dijalankan orang tuanya.

Industri rumahan pembakaran arang miliknya terbilang partai kecil. Tiga hari sekali, hanya 10 karung arang yang bisa ia produksi.

Kemudian, arang jadi ia pasarkan ke rumah-rumah makan yang menjual kudapan seperti ikan maupun ayam bakar.

"Satu karung itu macam-macam. Kadang saya jual Rp 120, kadang Rp 150 ribu," jelasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved