Usia 14 Tahun Endang Dinikahi Duda: Dibilang Bodoh Tak Bisa Urus Anak Tiri, Dicibir Setelah Cerai
Satu hari di lingkungan sekolah, Endang Wasrinah dijemput orangtua. Tiba di rumah langsung dilamar duda usia 37 tahun. Bukan bahagia tapi siksa dirasa
Penulis: Rr Dewi Kartika H | Editor: Y Gustaman
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Suatu hari masih di lingkungan sekolah, Endang Wasrinah dijemput orangtua. Tiba di rumah langsung dilamar duda usia 37 tahun.
Peristiwa berpuluh-puluh tahun lalu yang penuh kenangan pahit itu, masih terekam baik dalam memori Endang Wasrinah sampai sekarang.
Hidup dalam kondisi ekonomi keluarga jauh dari baik, Endang menerima saja dijodohkan.
• Ruben Onsu Buka Suara soal Harga Sepatu Betrand Peto Fantastis, Ayu Ting Ting Nyeletuk: Enak Ya!
TONTON JUGA:
• Pembunuh Sewaan Gagal Cabut Nyawa Pengusaha IT, Sang Istri Masuk Bui dan Kena Tipu Selingkuhan
Saat itu usia Endang Wasrinah masih 14 tahun dan tercatat sebagai siswa kelas dua sekolah menengah pertama di kampungnya.
Kegetiran hidup sebagai 'korban' pernikahan dini Endang Wasrinah bagikan saat menjadi narasumber di Mata Najwa pada Rabu (2/10/2019).
"Masih di dalam lingkungan sekolah saya dijemput pulang sama orangtua. Tahu-tahunya di rumah saya dilamar," ujar Endang Wasrinah yang TribunJakarta.com kutip dari YouTube Trans 7, Kamis (3/10/2019).
Menikah di usia muda, Endang Wasrinah kerap mendapatkan perlakuan tak manusiawi dari pria yang kini telah menjadi mantan suaminya.
Ia sama sekali tidak tahu sosok pria yang menikahinya itu.
Endang Wasrinah menyebut alasan orangtuanya memaksanya menikah karena tidak sanggup membiayai pendidikannya.
Apalagi, sambung Endang Wasrinah, adik-adiknya saatu masih kecil-kecil dan orangtua tak berkecukupan.
"Udah kamu menikah saja, mama enggak bisa biayai kamu terus,' pinta mamanya kepada Endang Wasrinah.
"Pada waktu itu adik-adik saya banyak masih kecil-kecil," ia menambahkan.
Endang Wasrinah mengaku masih memiliki tiga adik, sedangkan dirinya adalah anak kedua.
Najwa Shihab sebagai host menanyakan identitas suami yang menikahi Endang Wasrinah.
"Kenal dengan calon suami?" tanya Najwa Shihab.
"Enggak," ucap Endang Wasrinah.
Najwa Shihab pun menanyakan jarak usia dari calon suaminya dengan Endang Wasrinah.
"Beda usia berapa tahun?" tanya Najwa Shihab.
Endang Wasrinah mengaku memiliki perbedaan usia sekitar 23 tahun dengan suaminya itu.
Bahkan, Endang Wasrinah terpaksa mengasuh anak perempuan suaminya itu.
"Waktu itu suami saya umurnya sekitar 37 tahunan, punya anak satu perempuan. Saya terpaksa harus mengurus anak tiri," beber Endang Wasrinah.
Ia tak pernah terpikirkan untuk menikah dini.
Dalam pikiran anak-anak sebayanya, Endang Wasrinah hanya ingin terus bersekolah ke jenjang lebih tinggi.
Bukan ijazah yang didapat oleh Endang Wasrinah, malah buku nikah.
"Sedih mbak, saya pingin sekolah. Saya masih pingin kayak teman-teman sekolah, masih pingin dapat ijazah."
"Tapi saya malah disuruh kawin dapatnya buku nikah," ujar Endang Wasrinah.

Najwa Shihab heran bagaimana caranya Endang Wasrinah mendapatkan buku nikah kala itu, sementara usianya masih 14 tahun.
Di usia 14 tahun belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP), otomatis tidak bisa memiliki buku nikah.
Ternyata ada andil calon suami yang kemudian menikahi Endang Wasrinah.
Di mana si pria tercatat sebagai perangkat desa.
Pria tersebut lantas membuatkan KTP untuk Endang Wasrinah.
Tentu saja membuat usia calon istrinya itu lebih tua dari usia sebenarnya agar bisa mendapatkan KTP.
"Saya enggak tahu prosesnya karena calon suami, itu menurut desa saya, kerjanya di desa. Jadi dia menuakan umur saya," ujar Endang Wasrinah.
Endang Wasrinah mengungkapkan pernikahannya tidak berlangsung lama dan hanya bertahan selama satu tahun.
selama mengarungi rumah tangga, Endang Wasrinah kerap mendapatkan kekerasan baik secara fisik maupun verbal.
Saat bersamaan, konsentrasi Endang Wasrinah terpecah: selain suami dan anak tirinya, ia juga harus mengurus adik-adiknya yang masih kecil.
"Saya kan harus mengurus anak tiri. Sedangkan saya sendiri, adik saya umurnya sama seperti anaknya suami."
"Kalau saya enggak bisa ngurus anak, dia langsung marah, langsung lempar barang-barang rumah," ujar Endang Wasrinah.
"Terus bahasa yang dia lontarkan ke saya itu kasar, apa 'bodohlah kamu enggak bisa urus anak.' Begitu. Jadi yang saya rasakan itu takut. Takut sama suami," tambah dia.
Tak tahan dengan perlakuan tak manusiawi suami, Endang Wasrinah mengaku hanya tinggal bersama satu rumah selama enam bulan.
Ia pun juga lansung mengajukan permohonan cerai dari sang suami.
"Saya enam bulan minta pulang, selesai proses kan, harus proses dulu perceraian. Selesai saya dapat akta cerai satu tahun," ucap Endang.
Endang Wasrinah mengatakan selama satu tahu tahun menikah ia sakit-sakitan.
Saat diperiksa oleh bidan setempat, penyakit Endang Wasrinah ternyata bersumber dari suntikan KB yang kerap ia terima.
"Saya kan ada sakit, berhari-hari saya sakit. Terus diperiksain 'kenapa kamu sakit?' Ternyat ada KB, saya kan suntik KB," ucap Endang Wasrinah.
Endang Wasrinah menjelaskan, bidan yang memeriksa menyebut tubuhnya belum kuat untuk mendapat suntikan KB.
Ia mengaku hampir setiap hari demam akibat suntikan KB yang didapat.
"Umur 14 tahun itu, kata bidannya enggak seharusnya disuntik KB. Tetapi saya disuruh disuntik KB," kata Endang Wasrinah.
"Saya demam hampir setiap hari," tambahnya.
Setelah menyelesaikan perceraian, Endang Wasrinah memutuskan menjadi tenaga kerja wanita di luar negeri.
Sejumlah negara pernah ia bekerja di antaranya Oman, dan Abu Dhabi.
Ia bisa berangkat menjadi TKW bermodal KTP yang usianya dituakan oleh pria yang saat itu menikahinya.
Pertama kali Endang Wasrinah menjadi TKW di Abu Dhabi, tapi tak lama karena ia dipulangkan lagi ke Tanah Air.
"Saya dibilang bodoh. Saya enggak mengerti kerja dan tidak mengerti bahasa," cerita Endang Wasrinah.
Endang Wasrinah mengaku menjadi TKW karena tidak sanggup bertahan di rumah. Banyak orang mencibir dengan statusnya janda di usia muda.
"Selepas saya mendapatkan akta cerai, saya untuk tinggal di rumah banyak orang yang mencibir," ucap Endang Wasrinah.

"Terus kalau saya mau lihat teman-teman yang masih sekolah SMP seusia saya, saya merasa minder, saya malu," tambahnya.
Kini Endang Wasrinah sudah menikah lagi, dan mendapat suami yang bisa menerimanya.
"Bahagia sekarang mbak? Kalau saya boleh tanya," tanya Najwa Shihab.
"Alhamdulilah bahagia. Suami saya menerima saya apa adanya," ucap Endang Wasrinah.
Najwa kemudian bertanya alasan Endang Wasrinah dan temannya mengajukan gugatan uji materi UU Perkawinan Tahun 1974 ke Mahkamah Konstitusi.
"Pertama saya melihat adik-adik saya dulu Mba Nana. Pertama adik saya dua perempuan. Saya enggak mau melihat adik-adik saya putus sekolah seperti saya," kata dia.
Ia melanjutkan, nasibnya jangan sampai dialami adik-adiknya saja, tapi juga anak-anak perempuan di Indonesia pada umumnya.
"Semua perempuan di Indonesia harus mendapatkan pendidikan, kalau bisa setinggi-tingginya. Jangan sampai putus sekolah apalagi harus menikah," ucap Endang Wasrinah.
Endang Wasrinah satu dari dari tiga korban perkawinan anak yang menggugat UU Perkawinan Tahun 1974 ke Mahkamah Konstitusi.
Dilansir Voaindonesia.com, ia mengapresias atas putusan MK yang mengabulkan permohonannya terkait batas umur pernikahan bagi perempuan agar tidak lagi pada 16 tahun sebagaimana termaktub dalam UU Perkawinan.
SIMAK VIDEO SELENGKAPNYA: