Cerita Muhini Mengingat Tragedi Bintaro 32 Tahun Silam: Punya Benda Kenangan dari Kereta
Ada benda yang masih tersisa di rumah keluarga Muhini dari kejadian maut berpuluh-puluh tahun silam itu.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, PESANGGRAHAN - Sudah 32 tahun silam, tragedi kecelakaan kereta api Bintaro terkubur dalam kenangan Muhini (70), saksi kejadian pada kejadian tragis itu.
Di kediamannya yang tak jauh dari rel kereta api, ia bersedia menggali kembali penggalan-penggalan ingatan itu menjadi sebuah cerita.
Sambil bercerita, suara deru kereta api yang melaju di tengah bekapan udara yang gerah sesekali terdengar nyaring di telinga.
Katanya, di sekitar lokasi kejadian tabrakan saat itu masih terhampar empang, sawah dan pepohonan.
Belum ada permukiman padat yang menghiasi sepanjang rel kereta seperti saat ini.
Warga yang tinggal di sana pun hanya segelintir orang, salah satunya keluarga Muhini yang memiliki delapan orang anak itu.
Kecelakaan maut itu, lanjut Muhini, terjadi sekira pukul 07.00, pada 19 Oktober 1987.
Kereta pagi hari, lanjut Muhini, selalu mengangkut banyak penumpang.
Kala itu, ia baru hendak berangkat berjualan nasi uduk dan es teh manis ke sekolah.
"Bunyi tabrakan kedua kereta itu seperti bom, itu kejadian begitu saya mau berangkat jualan," kenangnya kepada TribunJakarta.com pada Senin (21/11/2019) di kediamannya, RT 005 RW 009, Kelurahan Bintaro, Jakarta Selatan.
Sejak kejadian itu, Muhini dan suaminya turut membantu mengevakuasi para korban kecelakaan itu.
Rumahnya, saat itu, menjadi tempat sementara jasad itu dievakuasi.
Ada juga yang dikumpulkan di lapangan bola di belakang rumahnya.
"Dulu ada lapangan, mereka banyak yang dibaringkan di sana. Sekarang udah enggak ada lapangannya. Udah jadi kontrakan," kenangnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/saksi-kejadian-tragedi-bintaro-muhini-70.jpg)