Polemik Pembangunan Hotel di TIM
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Tegur Anak Buahnya yang Arogan Bentak Seniman TIM
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun menyayangkan sikap anak buahnya itu terhadap para seniman senior Taman Ismail Marzuki (TIM).
Penulis: Dionisius Arya Bima Suci | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Dadang pun tak membantah bahwa ia adalah orang yang menjadi sorotan dalam video tersebut.
Meski demikian, ia menampik bila dikatakan bersikap arogan dengan membentak dan memarahi seniman.
"Saat itu saya baru balik dari Kepulauan Seribu, langsung ke tempat diskusi pukul 14.00 WIB. Itu hanya diskusi saja dengan para seniman," ujarnya saat dikonformasi, Minggu (24/11/2019).
"Tapi, baru satu kalimat langsung dipotong. Kemudian saya juga lagi batuk dan serak, saya bilang 'diskusi mau dilanjutkan enggak?'," tambahnya.
Bukan Hotel Bintang 5, Gubernur Anies Sebut Pemprov DKI Akan Bangun Wisma Seniman di TIM
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut, pihaknya bukan akan membangun hotel bintang lima di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), melainkan wisma seniman.
Hal ini ia sampaikan usai menghadiri musyawarah nasional (Munas) Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) di Hotel Borobudur, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat pada Senin (25/11/2019) malam.
"Wisma seniman ya, itu (arah pembangunan) untuk wisma seniman ya," ucapnya, Senin (25/11/2019).
Dijelaskan Anies, revitalisasi TIM sendiri bertujuan untuk menjadikan kawasan itu sebagai pusat kegiatan kebudayaan bertaraf internasional.
"Itu artinya yang hadir di sana bukan saja dari Jakarta, tapi juga dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk berbagai tamu dunia," ujarnya.
Untuk itu, Pemprov DKI sengaja membangun wisma seniman agar para tamu dari luar Jakarta itu bisa menginap di kawasan TIM.
"Ketika seniman dan budayawan dari berbagai tempat di dunia datang, mereka dapat tinggal di dalam wisma, tinggal di dalam komplek TIM," kata Anies.
"Sehingga tidak perlu berada di luar, karena memang ini sebagai sebuah ekosistem," tambahnya menjelaskan.
Ia menambahkan, selain sebagai tempat menginap, wisma seniman itu juga dirancang untuk bisa melakukan kegiatan kebudayaan.
"Jadi para seniman bisa berada di kawasan TIM selama 24 jam, baik seniman dari seluruh Indonesia, maupun dunia," tuturnya.