Info Kesehatan
6 Makanan Lezat yang Bisa Memicu Kanker, Dari Asinan hingga Popcorn!
Ahli onkologi, seperti dikutip dari Reader's Digest menyebutkan, pola makan yang tidak sehat dapat berisiko menyebabkan kanker.
TRIBUNJAKARTA.COM - Kanker merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di dunia.
Meski belum diketahui secara pasti apa penyebabnya, namun gaya hidup menjadi satu diantara banyak faktor yang disebut-sebut dapat memicu aktifnya sel kanker.
Ahli onkologi, seperti dikutip dari Reader's Digest menyebutkan, pola makan yang tidak sehat dapat berisiko menyebabkan kanker.
Bahkan beberapa makanan yang banyak digemari dan kerap kita konsumsi ini pun ternyata bisa memicu munculnya sel kanker, lho.
Oleh sebab itu, Moms sebaiknya hindari beberapa makanan seperti:
1. Daging olahan
Menurut World Health Organization (WHO), daging olahan masuk ke dalam kategori makanan pemicu kanker sama dengan rokok dan asbestos.
Selain daging olahan, sosis, bacon, hot dog, dan ham juga dapat memicu kanker kolorektal.
Meski hanya memakan 50 gram daging olahan, namun dapat meningkatkan risiko kanker usus sebesar 18 persen.
Bukan daging yang menjadi sumber masalah disini, Moms, melainkan cara pengolahannya yang ditambahkan dengan pengawet.
Ketika daging tertentu dimasak, natrium nitrit bergabung dengan amina alami dalam daging untuk membentuk senyawa N-nitroso yang menyebabkan kanker.
Iona Bonta, MD, seorang ahli onkologi di Pusat Perawatan Kanker Amerika di Southeastern Regional Medical Center mengatakan, makanan yang diasapkan juga mengandung nitrat.
Sementara itu, Cary Presant, MD, seorang internis, ahli hematologi, dan ahli kanker di Los Angeles mengungkapkan, meskipun proses pembuatan ikan asap sama dengan daging asap, akan tetapi ikan asap menjadi pilihan yang lebih baik dan masih aman dikonsumsi.
2. Popcorn microwave
"Popcorn microwave diisi dengan mentega buatan, dan asap di dalamnya mengandung senyawa beracun diacetyl yang berhubungan dengan kanker paru-paru," kata Eitan Yefenof, PhD, ketua Pusat Penelitian Imunologi dan Kanker Lautenberg di Universitas Yahudi Yerusalem di Israel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/ilustrasi-sakit-kepala_20180906_222949.jpg)