Sederet Kasus di Jabodetabek Selama 2019

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Tangsel Melonjak Pada 2019

Polres Tangerang Selatan (Tangsel) mengklaim tingkat kriminalitas di wilayah hukumnya turun pada tahun 2019 dibandingkan tahun sebelumnya.

Kompas.com/shutterstock
Ilustrasi kekerasan anak 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Jaisy Rahman Tohir

TRIBUNJAKARTA.COM, SERPONG - Polres Tangerang Selatan (Tangsel) mengklaim tingkat kriminalitas di wilayah hukumnya turun pada tahun 2019 dibandingkan tahun sebelumnya.

"2018 crime total atau keseluruhan tindak pidana yang kami terima dalam bentuk laporan polisi berjumlah 1.971 dengan tingkat penyelesaian perkara 1.375 atau angka capaiannya 70% yang mampu diselesaikan," papar Kapolres Tangsel, AKBP Ferdy Irawan, di Mapolres Tangsel, Jalan Raya Promoter, Serpong, Selasa (31/12/2019).

Ferdy menambahkan, "2019 ini menjadi 1.819 atau mengalami penurunan 8%. Angka penyelesaian perkara ini berjumlah 1.350, atau dalam presentase sejumlah 74%."

Dari total tindak pidana itu, Ferdy membahasnya lebih rinci dengan menunjukkan Jumlah kasus menonjol dari pembunuhan, pencurian, penganiayaan berat hingga kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Dari data yang dipaparkan, kasus pembunuhan serta kekerasan terhadap perempuan dan anak mengalami peningkatan.

Pada tahun 2018 ada dua kasus pembunuhan, sedangkan tahun 2019 bertambah menjadi lima kasus. Seluruhnya berhasil diungkap aparat Polres ataupun jajaran Polsek di bawahnya.

"Jadi untuk kasus pembunuhan di Tangerang Selatan, kita tidak memiliki tunggakan perkara," jelasnya.

Ferdy memaparkan, kasus kekerasan terhadap perlindungan perempuan dan anak (PPA) pada tahun 2018 ada 172 kasus dan hanya mampu diungkap 34%-nya atau 58 kasus.

Pada tahun 2019, kasus terkait PPA melonjak menjadi 199 kasus, dan yang sudah terungkap 75 kasus atau 35%.

"Kemudian kejahatan terhadap anak dan perempuan, angkanya mengalami kenaikan, dari 172 menjadi 199 perkara," ujarnya.

Ferdy mengatakan, kasus PPA yang terbanyak adalah terkait dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Jadi PPA itu yang paling banyak dilaporkan adalah KDRT suami terhadap istri, itu yang paling banyak," ujarnya.

Sedangkan terkait kekerasan terhadap anak, Ferdy mengatakan memang ada beberapa kasus pemerkosaan ayah dan anak.

"Kalau kekerasan terhadap anak, ada beberapa kasus menonjol yang menyangkut masalah pencabulan, yang sudah kita rilis, ada yang ayah tiri ada juga yang ayah kandung. Tetapi kalau bicara maslaah PPA secara presentase yang tertinggi adalah KDRT suami terhadap istri," tutupnya.

Penulis: Jaisy Rahman Tohir
Editor: Suharno
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved