Sisi Lain Metropolitan
Ahmad Memilih Tetap Memulung, Meski Tangan Patah dan Kaki Belum Pulih Akibat Ditabrak Sopir Mabuk
Suatu hari menjelang siang, Ahmad tak sadarkan diri, tiba-tiba sudah terbaring di ranjang sebuah rumah sakit.
Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Y Gustaman
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Suatu hari menjelang siang, Ahmad tak sadarkan diri, tiba-tiba sudah terbaring di ranjang sebuah rumah sakit.
Sampai sekarang, Ahmad tak pernah tahu siapa pengemudi mobil yang menabraknya saat berjalan di trotoar sekitar Taman Mini Indonesia Indah.
Berdasar cerita warga sekitar yang menolong, pengendara mobil yang menabraknya akhir tahun lalu itu sedang terpengaruh minuman keras.
Kasus ini menguap dan tak pernah terungkap, sementara Ahmad harus rela tangan kanan patah dan kedua kakinya belum pulih.
Dalam kondisi tak sempurna, Ahmad mengisi hari-harinya seperti sekarang ini.
"Semenjak jadi korban tabrak lari di kawasan TMII, saya memulung sebagai pekerjaan tetap," cerita Ahmad ke TribunJakarta.com, Jumat (10/1/2020).
Dokter yang merawatnya pascakejadian meminta untuk operasi agar tangan dan kakin bisa pulih seperti semula, tapi Ahmad tak punya uang.
Daripada berlama-lama di rumah sakit, Ahmad meminta pulang. Agar kembali pulih, ia memilih tangan dan kakinya diurut, itupun kalau ada uang.
"Saya enggak punya biaya. Makanya saat ini kalau ada uang lebih saya rutin pijat," kata Ahmad.
Sejak belasan tahun ke Jakarta, Ahmad bekerja serabutan. Kadang diajak ikut jadi kuli proyek, kadang tukang kebun.
Selama itu Ahmad tak pernah mengontrak rumah, tidur pun berpindah-pindah dan menggelandang.
"Jadi enggak bayar kontrakan. Penghasilan Rp 30 ribu per hari masih cukup untuk makan," ungkap Ahmad.
Siang itu keringat membasahi dahi Ahmad karena menahan beban karung berisi barang bekas seperti botol dan kardus.
Ia memanggul karung menggunakan tangan kirinya, kaki kanan dijadikan tumpuan saat berjalan.
Ahmad tetap memulung meski menahan sakit, sesekali rehat dengan bersandar ke tiang listrik untuk menopang tubuhnya.