Pemkot Khawatir Gangguan Kesehatan, Pengusaha Potong Unggas: Karyawan Tidur Bareng Ayam Enggak Sakit
Pemkot Jakarta Timur merelokasi 24 tempat pemotongan unggas di wilayah Kecamatan Matraman dan Pulogadung karena terletak di permukiman warga.
Penulis: Bima Putra | Editor: Suharno
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra
TRIBUNJAKARTA.COM, MATRAMAN - Pemkot Jakarta Timur merelokasi 24 tempat pemotongan unggas di wilayah Kecamatan Matraman dan Pulogadung karena terletak di permukiman warga.
Keberadaan mereka dikhawatirkan mengganggu kesehatan warga sehingga direlokasi ke Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) di Kelurahan Rawa Terate.
Namun para pengusaha pemotongan unggas yang sejak lama berbisnis tak sependapat dengan anggapan itu, satu di antaranya Indro Sulistyo.
"Itu stigma yang salah. Karyawan kita tiap hari berhubungan dengan ayam ada yang dari tahun 70, tahun 69, itu tidak ada sama sekali yang sakit," kata Indro di Matraman, Jakarta Timur, Kamis (30/1/2020).
Dia yakin usaha pemotongan unggas tak mengganggu kesehatan warga karena pegawainya saban hari beraktivitas dekat unggas.
Warga sekitar tempat mereka berbisnis pun disebut tak pernah mengeluhkan sakit meski banyak yang jadi pegawai di tempat potong.
"Karyawan tidur bareng ayam, makan bareng ayam, segala sesuatunya bareng ayam. Sama sekali belum pernah timbul penyakit," ujarnya.
Banyaknya warga yang jadi pegawai di tempat pemotongan unggas juga membuat Indro mempertanyakan warga mana yang merasa terganggu.
Menurutnya bukti bisnis mereka dapat bertahan hingga kini jadi bukti usaha mereka langgeng dan tak ada warga yang terganggu.
"Nah warga yang mana yang dirugikan dari usaha ayam ini, itu pertanyaannya. Jadi yang dirugikan warga juga, mata pencaharian mereka dari ayam juga," tuturnya.
Perihal tempat relokasi, Indro menilai RPHU Rawa Terate belum ideal jadi tempat berbisnis karena masalah keamanan wilayah sekitar.
Beberapa kasus begal yang terjadi di wilayah Kelurahan Rawa Terate bahkan membuat pelanggan ogah mampir karena khawatir keselamatannya.
"Pelanggan-pelanggan itu tidak mau ke sana, karena satu, rawan, kedua, ada beberapa kasus begal di sana, ayamnya hilang, orang hilang, motornya hilang," lanjut Indro.
Merujuk perbincangan dengan sesama pengusaha, daya tampung RPHU juga tak sepadan dengan jumlah ayam yang harus dipotong per harinya.
Dia menuturkan para pengusaha tempat pemotongan unggas sebenarnya setuju bila Pemprov DKI Jakarta menyediakan tempat lain yang lebih ideal.
"Jadi sudah penuh, motong itu. Ya kita tetap ikutin program pemerintah sambil kita kasih masukan-masukan mereka nih. Biar mereka lihat sendiri gitu dimana kekurangannya," sambung dia.