Tarif Rp 10 Juta Disorot Dinkes, Ningsih Tinampi Ternyata Sedekahkan Sebagian, Ini Pembagiannya
Ningsih Tinampi punya pertimbangan sendiri terkait tarif mahal tersebut. Katanya sebagian itu disedekahkan
Penulis: Erik Sinaga 2 | Editor: Suharno
TRIBUNJAKARTA.COM, SURABAYA- Pengobatan alternatif di Ningsih Tinampi mendapat respons dari pemerintah.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menganggap biaya pengobatan yang harus dikeluarkan masyarakat dianggap kelewat mahal.
Asal tahu saja, biaya berobat ke Ningsih Tinampi yang berdomisili di Pasuruan itu bervariasi. Mulai dari Rp 300.000 hingga Rp 10 juta.
Ningsih Tinampi punya pertimbangan sendiri terkait tarif tersebut. Ada pertimbangan menyedekahkan kepada anak yatim dan kamu duafa.
Simak selengkapnya:
1. Biaya berobat mahal? ini jawaban Ningsih Tinampi
Ningsih Tinampi, yang menjalankan pengobatan alternatif di Desa Karang Jati, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, angkat bicara terkait pernyataan dari Dinas Kesehatan Pemprov Jawa Timur.
Meski tidak mengelak terkait tudingan besaran biaya yang disampaikan Pemprov Jatim, namun, dikatakan sebagian penghasilan yang didapat dari pengobatan yang dijalankan itu untuk membantu orang tak mampu.
"Saya sudah merambah ke sekolah-sekolahan, SMP, SD, SMK, yayasan panti asuhan, dan buat bencana alam. Jadi anak yatim piatu sama kaum duafa sekitar seribu lebih. Dan satu anak saya kasih Rp 200 ribu perbulan, jadi jujur saya dapat uang ini memang buat sedekah tapi gak sedekah 'kabeh'," ucap Ningsih seperti dilansir Kompas.com dari Tribunnews.com, Minggu (9/2/2020).
2. Dinkes sarankan masyarakat cari yang gratis
Sebelumnya, Pemprov Jawa Timur mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan layanan gratis daripada ke pengobatan Ningsih Tinampi.
Pasalnya, ada kekhawatiran jika masyarakat memanfaatkan pengobatan alternatif itu.
Pertama, karena pengobatan yang dijalankan itu bukan termasuk layanan kesehatan dan kedua biayanya tidak murah.
Sebab dari informasi yang didapat, biaya pengobatan di Ningsih Tinampi antara Rp 300.000 hingga Rp 10 juta per orang.
"Kami khawatir nanti malah masyarakat penasaran dan mencoba berobat ke sana, padahal berobat ke Ningsih Tinampi tidak murah," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Herlin Ferliana, saat dikonfirmasi, Sabtu (8/2/2020).