Sisi Lain Metropolitan
9 Bulan Tak Pulang dan Jadikan Becak Sebagai Rumah Berjalan, Berikut Hal yang Dirasakan Wagimun
Becak yang sudah usang dan tak layak ditumpangi itu disewanya seharga Rp 3 ribu perharinya, dan diubah menjadi rumah berjalan
Penulis: Nur Indah Farrah Audina | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina
TRIBUNJAKARTA.COM, JATISAMPURNA - Sembilan bulan jadikan becak sebagai rumah berjalan, Wagimun (67) ungkap apa yang dirasakannya.
Sejak orang tuanya meninggal dunia, Bejo dan Rujimen meninggal di tahun 1982, Wagimun merantau ke Bekasi, Jawa Barat dengan menumpang di kereta barang.
Tanpa latar belakang pendidikan dan keahlian khusus, Wagimun memutuskan menjadi pemulung hingga ke wilayah Bogor, Jawa Barat.
Setelah berkeluarga dan memiliki satu orang anak, Wagimun menabung sedikit demi sedikit dan beralih profesi.
Tepatnya pada bulan Mei 2019 lalu, ia menjadi penjual minuman keliling.
Keterbatasan ekonomi yang di milikinya, tak surut membuat semangatnya padam. Tak memiliki sepeda motor maupun sepeda, ia memanfaatkan becak sewaan untuk berdagang minuman keliling.
Becak yang sudah usang dan tak layak ditumpangi itu disewanya seharga Rp 3 ribu perharinya, dan diubah menjadi rumah berjalan.
Selain rencengan kopi dan minuman lainnya, di becak tersebut terdapat termos, kompor gas hingga bantal.
Sebab, semenjak berjualan minuman keliling di kawasan Kranggan, Jatisampurna, Bekasi belum sekalipun ia menemui istrinya, Tini dan Sendi di kontrakannya yang berada di Cileungsi.
"Iya saya belum pulang sudah 9 bulan. Di jalan hidup saya kayak gini sambil jualan minuman," katanya kepada TribunJakarta.com, Selasa (11/2/2020).
Berikut hal yang dirasakan oleh Wagimun dan sudah dirangkum oleh TribunJakarta.com:
Rindu keluarga
Sembilan bulan mengadu nasib dan jauh dari keluarga, tentunya membuat Wagimun teramat rindu pada keluarga.
Setiap hari, mulai pagi hingga dini hari, Wagimun terus menjajakan minumannya.
Penghasilan yang hanya berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu usai seharian berjualan, membuatnya enggan untuk pulang.
Menurutnya, jika pulang maka tak ada lagi yang tersisa untuk keluarganya.
"Uang segitu belum di belanjakan kopi lagi kan. Makanya kalau balik ke rumah istri saya mau dapat apa, mau diberikan apa," ungkapnya.
Al hasil, setiap malam sebelum tidur, Wagimun hanya bisa menangis tersedu sambil merenungkan nasibnya.
'Saya mau usaha apa lagi?' selalu terucap tiap dirinya meratapi nasib.
"Saya cuma bisa nangis. Tapi balik lagi harus semangat," katanya.
Becak usang
Tak banyak yang tahu jika becak yang digunakan untuk berjualan merupakan becak usang.
Selama berjualan, Wagimun mengaku taj berani menaiki becak tersebut terlalu lama.
"Bisa sih tapi sekedar di dudukin aja," ucapnya singkat.
Sehingga tiap kali berjualan, Wagimun lebih sering mendorong becaknya.
"Kalau sudah begini saya cuma dorong aja. Makanya perjalanan saya lama. Sedangkan di sini banyak yg jualan kopi pakai motor. Saya doang yang pakai becak," katanya.
• Begini Rute Sirkuit Formula E di Monas, Lintasan Sepanjang 2,6 Km dan Memiliki 11 Tikungan
• Identitasnya Belum Jelas, Lucinta Luna Akan Ditempatkan di Sel Khusus
• 30 Kasus DBD Tercatat di Jakarta Utara Sejak Awal Tahun 2020
Tidur dan mandi
Selama 9 bulan tak pulang, Wagimun masih ingat pada kebersihan tubuh.
Setiap harinya, Wagimun selalu menumpang mandi di masjid maupun pom bensin.
Tak lupa ia juga mencuci pakaiannya dan ia jemur di tanah kosong.
"Mandi ya mandi. Kalau cuci baju tinggal di jemur di tanah kosong aja. Nanti sore di ambil sekalian lewat. Kayak begitu aja selama 9 bulan," katanya.
Sementara untuk tidur, Wagimun biasanya mencari tanah kosong atau halaman masjid untuk bermalam.
Dengan alas kardus yang dibawanya, ia akan tidur tanpa selimut dan bantal.
"Tapi belum lama ada yang kasih saya bantal. Sekarang saya tidur sudah ada bantalnya," jelasnya.
Modal minuman utang
Penghasilan sehari-hari tak menentu dan di bawah Rp 20 ribu, membuat Wagimun sering berutang kepada agen atau warung.
"Kalau uang hari ini habis. Ya paling utang di warung langganan aja. Paling banyak banget Rp 25 ribu. Nanti kalau ada uang saya bayar," katanya.
Biasanya Wagimun memerlukan waktu selama 4 hari untuk membayar utang tersebut.
"Habis dibayar saya ngutang lagi. Ya tapi gimana ya namanya hidup harus semangat. Mau ngeluh juga tetap enggak boleh nyerah gitu aja," tandasnya.