Pertaruhkan Nyawa Demi Selamatkan Korban Tenggelam, Pangkostrad Ungkap Rasa Bangga dengan 7 Prajurit
Mereka menyelamatkan nyawa Dedi Bagus Setiawan (24), yang tenggelam di tengah laut, pada Minggu (9/2/2020).
Penulis: Muhammad Rizki Hidayat | Editor: Wahyu Aji
Ketiga, prajurit Kostrad seyogiayanya memiliki pancaran mata yang menaklukan perasaan manusia.
"Memiliki pancaran mata yang mampu menaklukkan dan menyayangi. Bukan yang bringas," tegasnya.
Keempat, lanjut Harto, memiliki komunikasi yang baik.
"Mampu berdialog, berdebat, dan diplomasi untuk meyakinkan orang lain," ujar Harto.
"Kelima, kesiaagaan dan kewaspadaan. Ciri utama dari Kostrad. Selalu waspada dan siap sedia di mana pun bertugas," sambungnya.
Keenam, kata dia, daya imajinasi yang tinggi membaca situasi.
"Prediksi yang sedang dan akan terjadi. Dalam satu proses perencanaan yang baik," tambahnya.
Ketujuh, harus siap mengambil keputusan yang cepat.
Yakni Keputusan yang terbaik sesuai pikiran dan hati nurani.
"Terakhir, harus yakin bahwa yang dilakukan adalah tindakan yang baik," ucap Harto.
Pernyataan Prada Wilyam Keni Muai: Menolong Tanpa Diperintah
Prada Wilyam Keni Muai menjelaskan kronologi saat melakukan penyelamatan terhadap Dedi Bagus Setiawan.
Pada Minggu, 9 Februari 2020 cuaca saat siang menjelang sore begitu buruk.
Gemuruh petir dan gelombang ombak besar menari-nari di tengah laut Makassar.
"Pada saat itu pergeseran pasukan dari Makassar menuju Timika, Papua," beber Wilyam, pada kesempatan yang sama.
"Tiba-tiba saya kaget mendengar penumpang kapal berteriak bahwa ada satu penumpang yang jatuh," sambung Wilyam.

Tanpa pikir panjang, Wilyam pun langsung terjun dari pesawat milik Kostrad yang berada di ketinggian 10-15 meter dari air laut.
"Kami mempunyai niat dan keyakinan bisa menolong orang tersebut, sehingga kami mengambil diri tanpa perintah atau inisiatif terjun ke laut menolong korban," dia bercerita.
"Korban tersebut dapat kami tolong dan dievakuasi ke kapal," ujarnya.
Sebelum terjun ke tengah laut, Wilyam mengklaim dirinya lebih dulu melompat.
Tanpa koordinasi dengan prajurit Kostrad lain yang berada di sana.
"Pada saat itu tidak ada koordinasi, kami langsung inisiatif karena tidak ada yang berani meloncat ke laut, sehingga kami mempunyai niat menolong," ujar Wilyam.
Setelah itu, keenam prajurit Kostrad lainnya turut membantu Wilyam. Pun inisiatif menolong korban yang tak dikenal sama sekali.
"Mereka berinisiatif menolong juga. Kami tidak kenal dengan korban tersebut," beber Wilyam.
"Kami hanya niat menolong," pungkasnya.