Food Story
Sate Padang Ajo Ramon: Kuliner Melegenda di Pasar Santa
Bertudung kain terpal berkelir biru dan tiang-tiang pancang besi, suasana tempat makan Ajo Ramon ramai dipenuhi pengunjung yang tengah menyantap sate.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Wahyu Aji
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, KEBAYORAN BARU - Malam kian larut, asap sate terus mengepul di sekeliling parkiran Pasar Santa, Jakarta Selatan.
Pengunjung datang silih berganti ke asal asap.
Mereka ingin mencecap rasa sepiring sate padang Ajo Ramon yang melegenda khas Pariaman di sana.
Bertudung kain terpal berkelir biru dan tiang-tiang pancang besi, suasana tempat makan Ajo Ramon ramai dipenuhi pengunjung yang tengah menyantap sate padang.
Rasa dari daging dan kuah sate padang memang menjadi kunci utama yang membuat pengunjung tak berpaling ke lain hati.
Bahkan, kian ramai disambangi.
Menurut penerus usaha Sate Ajo Ramon Supriadi (30), anak ketiga dari mendiang Ramon Tanjung, pemilik usaha, semua bumbu yang digunakan untuk sate padang sebenarnya sama, hanya yang membedakan takarannya.
Bumbu sate padang tak terlepas dari jahe, bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas dan cabe.
Supriadi menjelaskan ada dua bumbu sate padang, Pariaman dan Padang Panjang.
Mendiang ayahnya mengikuti gaya sate padang khas Pariaman.
Sate khas Pariaman, sambungnya, berwarna lebih coklat sedangkan Padang Panjang berwarna kuning.
Bumbu yang lebih coklat lantaran dominasi cabai yang lebih banyak
"Kalau yang bumbu kuning itu karena lebih banyak kunyitnya," ujar Supriadi di kediamannya, di Kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan pada Senin (17/2/2020).
Dalam pemilihan daging, Supriadi memilih daging sapi has dalam yang bebas dari tetelan dan urat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/sate-ajo-ramon.jpg)