Imbas Corona Stok Darah Menipis
Pendonor Khawatir Covid-19, Pasien DBD di Jakarta Timur Sulit Dapat Transfusi Darah
Kepala Markas PMI Jakarta Timur Eki Komalasari mengatakan beberapa hari terakhir keluarga pasien DBD harus berupaya mencari stok darah sendiri
Penulis: Bima Putra | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra
TRIBUNJAKARTA.COM, DUREN SAWIT - Warga Jakarta Timur yang anggota keluarganya terjangkit demam berdarah dengeu (DBD) kini pontang-panting mencari stok darah untuk keperluan transfusi.
Dua pekan terakhir jumlah pendonor di Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Timur anjlok karena warga tak keluar rumah karena takut terpapar Covid-19.
Kepala Markas PMI Jakarta Timur Eki Komalasari mengatakan beberapa hari terakhir keluarga pasien DBD harus berupaya mencari stok darah sendiri.
"Kemarin ada pasien DBD yang minta golongan darah A, tapi karena kosong akhirnya pihak keluarga berusaha mencari pendonor sendiri," kata Eki saat dikonfirmasi di Jakarta Timur, Rabu (25/3/2020).
PMI Jakarta Timur sudah berupaya memenuhi kebutuhan stok darah dengan menghubungi seluruh relawan yang mereka kenal.
Nahas upaya gagal karena para relawan PMI Jakarta Timur belum tiga bulan dari saat mereka terakhir mendonorkan darahnya.
"Sebaiknya tiga bulan dari waktu terakhir donor baru bisa melakukan donor lagi. Sementara relawan kami belum sampai tiga bulan melakukan donor darah," ujarnya.
Rentan melakukan donor tersebut agar tubuh pendonor memiliki waktu memprovokasi darah baru yang sudah dikeluarkan.
Eki berharap ketakutan warga terpapar Covid-19 tak mengalahkan kesadaran membantu sesama, khususnya di masa kasus DBD melonjak.
"Kasus DBD di Jakarta Timur termasuk tinggi di DKI. Sejak awal tahun sebenarnya sudah banyak kasus DBD, hanya tidak tersorot saja karena kasus Corona," tuturnya.
• Polisi Siap Beri Sanksi Tegas kepada Warga yang Nekat Berkumpul hingga Denda Jutaan Rupiah
• Alat Tes Cepat Covid-19 Tak Semudah yang Dibayangkan, Hingga Pola Pengumpulan Massa Dikritik
PMI Jakarta Timur rata-rata menerima 25 pendonor setiap harinya, namun dua pekan terakhir jumlah turun hingga tak sampai 10 orang per hari.
Sebagai informasi, selama periode awal tahun 2020 hingga 10 Maret lalu Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat 970 kasus DBD terjadi.
Rinciannya Jakarta Barat sebanyak 269, Jakarta Timur dan Selatan 265, Jakarta Utara 103, Jakarta Pusat 62, dan Kepulauan Seribu 6 kasus DBD.
Saat kasus DBD awal tahun 2019 lalu, dua warga Jakarta Timur meninggal akibat penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti itu.