Spanyol dan Ceko Keluhkan Rendahnya Akurasi Alat Rapid Test Corona Asal China
Pemerintah Spanyol melaporkan alat rapid test virus corona atau Covid-19 dari China tidak akurat.
Penulis: Dionisius Arya Bima Suci | Editor: Y Gustaman
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci
TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Pemerintah Spanyol melaporkan alat rapid test virus corona atau Covid-19 dari China tidak akurat.
Spanyol merupakan negara dengan jumlah kematian akibat virus corona terbanyak kedua di dunia setelah Italia, mencapai 4.000 kasus.
Sementara itu, lebih dari 56 ribu warganya dilaporkan terinfeksi virus yang menyerang sistem pernapasan manusia ini.
Untuk itu, Pemerintah Spanyol memutuskan untuk memesan alat rapid test buatan Bioeasy, salah satu perusahaan asal China.
Dilansir yahoonews.com, otoritas kesehatan Negeri Matador itu langsung menguji 9.000 alat rapid test yang diperoleh dari China.
Hasil pengujian menunjukan alat rapid test corona itu hanya memiliki tingkat akurasi sebesar 30 persen.
Otoritas kesehatan Spanyol lalu mengusulkan kepada pemerintah untuk tidak menggunakan alat buatan China itu.
Direktur Pusat Peringatan Kesehatan dan Kedaruratan Spanyol, Fernando Simón, mengatakan Spanyol menguji 9.000 test kit tersebut dan akan mengembalikannya karena tingkat kesalahan yang tinggi.
Berdasarkan studi tersebut, muncul rekomendasi agar alat tes tersebut tidak digunakan.
Kedutaan China di Spanyol angkat bicara.
Mereka mengklaim produk Bioeasy tidak termasuk dalam produk yang disediakan China untuk negara-negara di mana virus corona menyebar.
Tak hanya di Spanyol, media asal Republik Ceko, Expats.cz, melaporkan rendahnya tingkat akurasi alat rapid test buatan China tersebut.
Expats.cz menyebut, alat tersebut memang dapat mengeluarkan hasil tes dengan sangat cepat, berkisar 10 hingga 15 menit.
Namun, tingkat akurasinya sangat rendah dibandingkan metode tes lainnya.
Bahkan, 80 persen dari 150.000 alat rapid test yang dipesan Ceko awal bulan ini dikabarkan tidak mampu mengidentifikasi infeksi virus corona dengan tepat.
Padahal, Kementerian Kesehatan Ceko telah menggelontokan anggaran hingga $ 546.000 untuk membeli 100.000 alat rapid test dan 50.000 alat rapid test lainnya dibeli oleh Kementeri Dalam Negeri setepat.
Temuan ini disangkal oleh Wakil Perdana Meteri sekaligus Menteri Dalam Negeri Republik Ceko Jan Hamacek.
Bahkan, Hamacek meremehkan penemuan yang menyatakan bahwa banyak tes yang dilakukan salah, dan mengatakan metodologi yg digunakan keliru.
Ia pun menyebut, alat itu masih bisa digunakan "saat penyakitnya ada" atau saat "seseorang kembali setelah karantina 14 hari"
"Menurut saya, ini bukan sekedar penemuan yang memalukan bahwa alatnya tidak berfungsi," ujar Hamacek.