Ribut Sembako Berujung Tersangka

Perkelahian di Koja Diawali Masalah Sembako, Ini Cerita Versi Bu RT

Menurut Imas, percekcokan itu awalnya berlangsung setelah ada pembagian sembako di wilayahnya pada 17 April 2020 lalu

Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Muhammad Zulfikar
TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
Ketua RT 006/RW 008 Rawa Badak Utara, Imas, saat ditemui di Mapolres Metro Jakarta Utara, Kamis (30/4/2020) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, KOJA - Permasalahan pembagian sembako di RT 006/RW 008 Rawa Badak Utara, Koja, Jakarta Utara, menjadi pemicu terjadinya cekcok antara ketua RT setempat, Imas, dan warganya, kakak beradik Nurhayati dan Nur Ayni.

Percekcokan tersebut lantas berujung perkelahian yang melibatkan Nur Ayni dan Prita Aulia yang tak lain adalah putri dari Imas.

Menurut Imas, percekcokan itu awalnya berlangsung setelah ada pembagian sembako di wilayahnya pada 17 April 2020 lalu.

Ketika sembako dibagikan secara door to door kepada warga setempat, empat orang warga yang terdata sebagai penerima bantuan tidak ditemukan.

Dua di antaranya ialah Nurhayati dan Nur Ayni, yang menurut Imas sudah tak lagi berdomisili di wilayahnya meskipun alamat dalam KTP dan KK mereka masih di RT 006/RW 008 Rawa Badak Utara.

Imas juga mengaku sudah berkoordinasi dengan kelurahan setempat bahwa sembako sisa bakal dikembalikan ke pihak RW.

"Saudari Nurhayati ini bukan warga kami dan tidak berdomisili di wilayah saya. Dia sudah bertahun-tahun tidak tinggal di tempat saya dan sudah punya rumah di Bekasi," kata Imas saat ditemui di Mapolres Metro Jakarta Utara, Kamis (30/4/2020).

Keesokan harinya setelah pembagian, warga setempat menginformasikan kepada Imas bahwa ada telepon dari Nurhayati terkait masalah sembako itu.

Pemprov DKI Fasilitasi 871 Tenaga Kesehatan untuk Tinggal di Hotel

Polisi Duga Pistol yang Digunakan Maling Motor di Cipayung Mainan

Imas pun menghubungi Nurhayati agar dirinya datang ke rumahnya sesegera mungkin. Bukan untuk mengambil sembako, melainkan untuk mengurus surat pindah.

Hal itu juga sekaligus untuk melakukan pendataan dasawisma terhadap Nurhayati dan Nur Ayni.

"Karena di daerah kami ada pendataan dasawisma. Itu pun tiga bulan sekali harus didata warga kami. Jadi takutnya di sana (tempat tinggal Nurhayati di Bekasi) tidak didata, di tempat kami tidak didata," kata Imas.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Pak Lurah, dengan pengurus semua kami sepakat bahwa yang tidak berdomisili di tempat saya harus dibuatkan surat pindah," imbuh dia.

Selang beberapa hari, Nurhayati dan Nur Ayni mendatangi rumah Imas untuk berbicara langsung terkait masalah sembako dan surat pindah.

Kunjungan tersebut dilakukan setelah sebelumnya sudah ada komunikasi via WhatsApp antara Nurhayati dan Imas.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved