Virus Corona di Indonesia
Waktu Rapid Test Berpengaruh Tentukan Hasil, Ini Penjelasannya
Kepala Instalasi Laboratorium RS Polri Kramat Jati Kombes Edy Purnomo mengatakan rapid test memang bukan metode sahih menyatakan pasien Covid-19
Penulis: Bima Putra | Editor: Muhammad Zulfikar
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra
TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMATJATI - Sejumlah pihak meragukan atau bahkan menolak rapid test guna mendeteksi pasien positif Covid-19 karena hasilnya tidak seakurat tes swab.
Sejak pertengahan Maret 2020 saat rapid test di fasilitas kesehatan digelar, pemerintah sebenarnya sudah mengakui rapid test tak 100 persen akurat.
Kepala Instalasi Laboratorium RS Polri Kramat Jati Kombes Edy Purnomo mengatakan rapid test memang bukan metode sahih menyatakan pasien Covid-19.
Namun tak berarti rapid test yang mendeteksi antibodi dalam tubuh sama sekali tak berguna dalam memutus penularan mata rantai Covid-19.
"Persoalannya kapan rapid test dipergunakan. Jadi pada saat orang terinfeksi virus tubuh akan mengenali virusnya apa, setelah dia mengenali dia akan membentuk antibodinya apa," kata Edy di RS Polri Kramat Jati, Kamis (14/5/2020).
Dalam medis terdapat istilah window periode yang merupakan lama waktu tubuh membentuk antibodi guna melawan virus.
Rentan tubuh memproduksi antibodi berkisar tujuh sampai 10 hari dari saat terjangkit virus, antibodi ini yang dideteksi dalam rapid test.
"Makanya rapid test kedua dilakukan 7-10 hari setelah rapid test pertama. Ada fase area di mana seseorang ada virusnya tapi tidak ada antibodinya, disebut dengan false negatif," ujarnya.
Edy menuturkan waktu pembentukan antibodi ini jadi alasan rapid test diprioritaskan orang bergejala Covid-19 dan tenaga kesehatan.
Ketika seseorang bergejala Covid-19 melakukan rapid test dan hasilnya reaktif, maka hasil uji spesimen swab memiliki kemungkinan besar positif.
"Menurut saya tergantung waktu pemakaian. Ketika ada gejala (Covid-19) lalu dirapid dan hasilnya positif, saya bilang itu positif 100 persen. Kalau negatif pun negatif 100 persen," tuturnya.
• Prediksi Cuaca dari BMKG Besok, Jumat 15 Mei 2020: Wilayah Jakarta Pusat Cerah Berawan Seharian
• Gubernur Anies Sanksi Pelanggar PSBB Bersihkan Fasilitas Umum Pakai Romi Oranye, PKS: Bagus
Rapid test sendiri kian gencar dilakukan, baik oleh pemerintah lewat Puskesmas dan RSUD, hingga yang mengharuskan warga membayar.
Harga rapid test di masing-masing fasilitas kesehatan berbeda, namun kisaran untuk satu kali rapid berbayar di atas Rp 100 ribu ke atas.
"Kalau dia batuk, pilek, panas tinggi lalu dirapid dan hasilnya negatif berarti benar bukan Covid-19. Kenapa? Karena dia punya gejala tapi dia enggak punya antibodi," lanjut Edy.