Breaking News:

Blak-blakan Tolak Jabatan Staf Khusus dan Komisaris BUMN, Ini Alasan Yunarto Wijaya

Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya menceritakan pengalaman yang menolak tawaran menjadi staf khusus dan komisaris BUMN.

https://www.instagram.com/yunartowijaya/
Yunarto Wijaya 

Untuk itu, dengan tegas Yunarto Wijaya menyatakan tak akan menjadi orang partai dan tak akan menjadi komisaris yang makan gaji buta. 

 SIMAK VIDEONYA:

Akui Pernah Mau Dibunuh

PENGAMAT politik Yunarto Wijaya pernah menjadi salah satu target pembunuhan karena mendukung Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019.

Namun, kini Yunarto mati-matian melontarkan kritik kepada Jokowi.

Salah satu kritik keras Yunarto yang menjadi sorotan ialah soal restu Presiden Jokowi terkait revisi undang-undang KPK.

Belakangan, manuver Yunarto menjadi pertanyaan netizen. Direktur lembaga survey Charta Politika itu angkat bicara terkait hal tersebut.

“Barusan ditanya: Mas kok sekarang kritik jokowi terus, nyesel gak dukung prabowo ya?” tulis Yunarto menyinggung pertanyaan netizen lewat akun twitternya Senin (23/9/2019).

Yunarto buka-bukaan soal alasan dukungannya terhadap Jokowi di Pilpres 2019 lalu. “Jawaban: Saya pilih Jokowi karena takut dengan track record Prabowo memimpin Indonesia, jadi kalo Jokowi makin mirip Prabowo ya harus dikritik.. simple khan?" kata Yunarto.

Sebelumnya pria yang pernah jadi target Kivlan Zein itu juga sempat menyinggung buzzer yang mati-matian membela revisi UU KPK.

“Buat yang nanya kenapa sekarang saya kritik @jokowi, jawaban saya: karena saya pemilih rasional, gak pernah tertarik jadi komisaris, dan bukan buzzer,” kata Yunarto.

Bahkan Yunarto juga kini kerap menantang debat beberapa pendukung Jokowi seperti Denny Siregar.

Ia menyebut Denny sebagai penumpang gelap demokrasi karena menihilkan kritik terhadap pemerintah.

“Penumpang gelap demokrasi gak akan dapat tempat kalo pendukung rezim ikut melakukan otokritik, bukan menjilat/membenarkan semua kebijakan,” tulis Yunarto.

Diberitakan Tribunnews.com sebelumnya Yunarto Wijaya kerap mendapatkan ancaman saat Pilpres 2019.

Yunarto juga menjadi salah satu target pembunuhan berencana yang digagas oleh pendukung Prabowo Subianto Kivlan Zein.

Nama Yunarto tersemat di antara nama-nama jenderal dan politisi pendukung Jokowi.

"Sebetulnya, enggak hal baru, ya. Pertama sempat kantor saya akan didemo," ujar Yunarto,dilansir Tribunnews.com dari Youtube Kompas TV.

Yunarto mengaku sebelum Pemilu digelar pun, ia telah melaporkan beberapa akun media sosial yang melontarkan ancaman padanya.

"Bahkan sebelum Pemilu sebetulnya saya sudah melaporkan beberapa akun terkait dengan ancaman, walaupun hanya melalui medsos, saat itu," jelas Yunarto.

Tak hanya ancaman melalui media sosial, beberapa oknum juga melakukan penyebaran nomor Yunarto secara sengaja.

Juga dibuatlah screenshot atau tangkap layar chat palsu.

Yunarto mengatakan dari laporan tersebut, beberapa pelaku sudah sempat ada yang ditangkap.

"Sudah ada (pelaku) yang sempat ditangkap, setahu saya. Dari Lampung, akun yang menyebarkan hoaks atau fitnah," ujarnya.

Pasca pemungutan suara 17 April 2109, Yunarto mengaku muncul beberapa ancaman terkait quick count.

Yunarto tak pernah menyangka jika ancaman yang dilontarkan padanya mengarah sampai ke pembunuhan.

Namun, ia juga tak merasa terkejut sebab telah ada pemberitahuan dan langkah preventif dari pihak keamanan.

Yunarto pun mengucap terima kasih kepada pihak keamanan.

"Sebetulnya sudah ada pemberitahuan dari pihak keamanan. Saya sangat berterima kasih ada langkah preventif. Saya tidak ingta kapan tepatnya, mungkin sekitar awal Mei atau akhir April, memang sudah ada pemberitahuan bahwa harus ada kewaspadaan khusus karena memang ada ancaman," ujarnya.

Yuanrto mengaku telah mengetahui dirinya menjadi target sejak Polri umumkan nama 4 tokoh nasional yang juga menjadi target pembunuhan.

"Walaupun belum pernah ada cerita detail ke saya. Tetapi sekitar dua minggu yang juga sudah ada kan pengumuman mengenai 4 tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei.

Saat itu sebetulnya saya sudah tahu, sebagian cerita detail dari pihak keamanan mengenai apa yang terjadi.

tetapi memang nama saya baru dikeluarkan secara eksplisit, sepertinya kemarin."

Meski telah mengetahui dirinya menjadi target pembunuhan, Yunarto mengaku tak mengerti motif sang pelaku.

Yunarto pun mengakui tak ingin berspekulasi mengenai motif rencana pembunuhan terhadapnya, ia hanya berharap bahwa alasan di balik itu bukanlah karena hasil quick count Pilpres 2019.

"Saya pikir saya tidak mau berspekulasi, tetapi yang jelas saya berharap bukan karena sebuah quick count," harapnya.

Tak hanya sekedar hasil quick count, Yunarto berharap ancaman pembunuhan tersebut bukan karena perbedaan pendapat atau hak menyampaikan suara.

"Saya berharap bukan karena sebuah perbedaan pendapat, saya berharap bukan karena pelantangan bersuara, saya tidak berharap karena hal itu," lanjut Yunarto.

Yunarto menilai ancaman yang dilontarkan padanya dan empat tokoh nasional bukan sekedar mengenai keselamatan pihak tersebut, melainkan menjadi bentuk pencemaran demokrasi.

"Tetapi balik lagi, poinnya sih menurut saya yang penting ini bukan tentang keselamatan saya atau misalnya ada 4 orang lain. Saya lebih melihat bagaimana ada yang berusaha mencemarkan demokrasi. Ini kan ada yang berusaha 'ingin membunuh perbedaan', 'ingin melukai keberagaman', 'ingin menyelesaikan proses sebuah kompetisi dengan cara yang tidak konstitusional'," terangnya.

Nama Kivlan Zen diduga sebagai orang yang memerintahkan rencana permbunuhan terhadapnya.

Menanggapi hal itu, Yunarto singgung soal rekam jejak pihak-pihak terlibat yang menurutnya tidak cukup baik.

"Ternyata dilakukan oleh orang-orang lama yang dulu juga punya track record yang tidak cukup baik, misalnya di tahun 1998," kata Yunarto.

Meski demikian, Yunarto mengaku telah memaafkan dan tak menaruh rasa dendam.

"Ini yang saya sesalkan dan menurut saya kita tidak usah mengutuk, saya sendiri dan keluarga sudah memaafkan secara pribadi, walaupun sempat syok.

Karena saya pikir sudah terlalu lama, terutama menjelang pemilu kita terjebak dalam kebencian," ujarnya.

Yunarto pun sampaikan harapannya mengenai konstetasi Pilpres yang hendaknya tak didasari dengan kebencian.

"Saya berharap proses hukum tetap berjalan tetapi itu pun tidak perlu ditekan melalui kebencian, kemurkaan terhadap suatu kelompok. Hukum tetap dijalankan sesuai dengan apa yang memang menjadi kewenangannya. Dan kita juga biarkan dia bekerja sendiri tanpa mendorongnya dengan kebencian. Sepertinya bangsa ini sudah terlalu lama membicarakan menang kalah dengan kebencian dan kemurkaan," katanya. (*)

Penulis: Kurniawati Hasjanah
Editor: Kurniawati Hasjanah
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved