Waspada Nyeri Tenggorokan Bisa Jadi Tanda Penyakit Difteri
Ahli Infeksi dan Penyakit Tropis Pada Anak dr Anggraini Alam sebut anak seharusnya bisa terbebas dari bahaya penyakit difteri selama pandemi Covid-19.
Penulis: Pebby Ade Liana | Editor: Suharno
Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Ahli Infeksi dan Penyakit Tropis Pada Anak dr Anggraini Alam mengatakan bahwa anak seharusnya bisa terbebas dari bahaya penyakit difteri selama pandemi Covid-19.
Apalagi ketika Covid-19 terus meluas, anak tetap terlindungi dengan melaksanakan protokol kesehatan sedemikian rupa.
Seperti berada di rumah dan memakai masker. Namun sayangnya ia menyebutkan baru-baru ini kasus difteri kembali ditemukan di Jakarta.
"Jadi tahun 2017 akhir, bulan Desember tercatat ada 600 anak terkena difteri juga dewasa, 38 diantaranya dinyatakan meninggal. Itu kita katakan outbreak paling besar dari difteri di Indonesia," kata dia yang dikutip dari IG TV Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang dipublikasikan pada Selasa (14/7/2020).
• Komisi Perlindungan Anak Pertanyakan Predikat Kota Layak Anak untuk Kota Depok
"Nah saat ini pada saat Covid demikian kita ketemu pasien difteri lagi. Bahkan bayangkan ketemunya di Jakarta. Di RSCM sampai ada 3 pasien. Kenapa ini kok ada difteri lagi?," imbuhnya.
Penyakit difteri, merupakan penyakit yang utamanya menyerang saluran pernafasan atas akibat infeksi bakteri yang masuk ke dalam tubuh.
Pada umumnya, gejala penyakit ini akan mulai timbul setelah 2 hingga 5 hari terinfeksi.
Menurut dr Anggraini, penyakit ini merupakan penyakit serius yang bisa membahayakan nyawa apabila terlambat untuk ditangani.
"Dia (bakteri) di saluran nafas atas dia membuat satu selaput. Nah selaput itu yang nutup saluran nafas hingga bisa menimbulkan kematian," paparnya.
• Diasingkan Warga Sekitar, Pasien Covid-19 Asal Tangsel ini Sempat Stres Saat Isolasi Mandiri
Bakteri penyebab penyakit difteri, menghasilkan racun yang bisa menimbulkan komplikasi pada tubuh.
Toksin ini, menyebar dan merusak jaringan lainnya. Seperti jantung, ginjal, atau menyebabkan kerusakan saraf.
Jika sudah terkena, biasanya dokter akan melakukan berbagai rangkaian tata laksana untuk mengatasi penyakit difteri ini.
"Ngobatinnya tergantung derajat beratnya sakit. Tapi nomor 1 adalah pemberian anti toksin atau yang kita kenal sebagai anti difteri serum supaya bakteri itu tidak mengeluarkan toksin.Toksin itu bisa kena ke jantung, ginjal, saraf, ke manapun hingga komplikasinya menimbulkan kematian," ujar dia.
"Lalu diberikan antibiotik supaya bakterinya mati. Agar dia tidak mengeluarkan toksin. Ketiga kita atasi komplikasinya," imbuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/suntik-imunisasi-imunisasi-virus-difteri_20180129_142946.jpg)