Breaking News:

Amerika Ancam Jatuhkan Sanksi Kepada Turki Terkait S-400

Salah satunya yang dipermasalahkan Gedung Putih adalah soal pembelian rudal pertahanan canggih buatan Rusia S-400

Editor: Muhammad Zulfikar
Daily Express
Ilustrasi Bendera Amerika Serikat 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dinilai telah membuat sejumlah keputusan yang makin mengundang kemarahan Amerika, meskipun Presiden Donald Trump sejauh ini masih menahan diri untuk memberikan sanksi tambahan.

Salah satunya yang dipermasalahkan Gedung Putih adalah soal pembelian rudal pertahanan canggih buatan Rusia S-400. Transaksi ini membuat Washington semakin frustrasi dengan Turki dan membuat pandangan Amerika atas Ankara berubah, seperti dilansir dari Al-Arabiya.

Pada Juli 2019, Turki menerima paket pertama rudal pertahanan S-400 Rusia. Pembelian ini membuat Turki akhirnya dikeluarkan dari program kepemilikan jet tempur canggih F-35. Pilot Turki juga diminta segera pulang dari pelatihan di Amerika.

Dikeluarkannya Turki dari program F-35 diumumkan Senin lalu. Departemen Pertahanan AS kemudian memutuskan membeli delapan pesawat F-35A Lightning II yang seharusnya menjadi jatah Turki.

Tetapi Turki tidak bergeming atas sanksi itu dan terus maju dengan agendanya sendiri. Ankara bahkan mengancam akan membalas sanksi Amerika.

Setelah mengabaikan protes dari Washington juga sekutu NATO, AS kemudian menjatuhkan sanksi kepada Turki Oktober lalu karena operasi militernya pada kelompok Kurdi di Suriah Utara.

Trump kemudian melanjutkan dengan memberi sanksi kebijakan tarif, dan sanksi kepada pejabat kementerian luar negeri, kementerian pertahanan dan menteri dalam negeri Turki.

Namun Turki tetap berjalan dengan kemauannya sendiri. Saat ini Turki malah ikut mengambil bagian dalam operasi militer di wilayah Suriah, Irak, dan Libya.

Hal itu dinilai akan mengganggu kestabilan hubungan mereka dengan Uni Eropa, termasuk upaya eksplorasi di perairan Yunani dan Siprus untuk memanfaatkan cadangan gas alam.

Di Irak, Turki diduga bersama Iran tengah melakukan operasi menumpas pasukan Kurdi di mana populasi Kurdi dipandang sebagai ancaman terhadap kedaulatan bangsa-bangsa lainnya oleh Ankara dan Teheran. Hal itu mendapatkan protes dari Arab Saudi, dan juga para pejabat AS.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved