Waspadai Gejala Dini Pikun ini Sering Diabaikan, Simak Penjelasannya
Dalam istilah medis, pikun juga dikaitkan dengan gejala demensia yang mengacu pada penurunan fungsi otak. Pikun juga bisa terjadi pada kaum muda
Penulis: Pebby Ade Liana | Editor: Satrio Sarwo Trengginas
Selain lupa, berfikir lebih lamban hingga logika yang menurun juga bisa menjadi gejala dini pikun menurut dokter Pukovisa.
Gejala pikun harus dikenali sejak dini agar bisa segera dilakukan penanganan dan pencegahan agar tidak berkepanjangan.
Lakukan pemeriksaan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Bisa terjadi pada usia muda
Dikutip dari Fisher Center For Alzheimer's Research Foundation, Kepikunan yang sekarang lebih sering disebut sebagai demensia, ditandai dengan penurunan kemampuan kognitif atau penurunan mental.
Ini mungkin termasuk ketidakmampuan orang tersebut untuk berkonsentrasi, mengingat informasi, dan menilai situasi dengan tepat.
Dokter Spesialis Saraf dari RSUI Depok, Pukovisa Prawiroharjo menjelaskan, pikun bisa terjadi tak hanya pada orang tua saja, anak muda pun bisa kena.
"Usia muda juga bisa. Saya banyak pasien yang umurnya anak-anak, biasanya dibawa orang tuanya tuh karena kesulitan belajar rapotnya jelek, pas diperiksa ada gangguan di otaknya. Tapi kebanyakan usia remaja, dan usia muda," kata dia dalam webinar Bicara Sehat RSUI, Rabu (23/9/2020).
• Kerap Lupa Ketika Ingin Berbicara? Ternyata Bukan Tanda Kepikunan, Simak Penjelasannya!
• Yuk Ciptakan Lingkungan Positif bagi Orang dengan Demensia Alzheimer
"Misalnya pada trauma orang kecelakaan, ngebut gak pakai helm, tabrakan. Nah itu bisa, karena Napza, terus penyakit lain," tambahnya.
Ia menjelaskan, pikun pada usia muda biasanya disebabkan oleh beberapa penyakit otak seperti cedera kepala akibat kecelakaan, radang otak, stroke, tumor, atau akibat penyakit metabolik yang berat.
Selain itu, penyalahgunaan Napza juga bisa menyebabkan seseorang berusia muda sudah mengalami pikun atau demensia.
Nah, agar otak tetap sehat dan berfungsi maksimal, ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan menurut Dokter Pukovisa.
Di antaranya bebas zat neurotoksik dan adiktif seperti Napza, juga alkohol, bebas resiko penyakit vaskular dan penyakit neurotoksik seperti hipertensi, kolesterol, jantung, diabetes, gangguan ginjal, atau bahkan gangguan hati.
Beberapa penyakit tersebut menurutnya dapat menyebabkan sumbatan pembuluh darah hingga bisa berdampak terhadap fungsi otak.
"Pembuluh darah itu, dia mengalirkan seperlima seluruh darah dalam tubuh kita, jadi itu seperlimanya buat otak. Maka tidak boleh tidak, jalan untuk pengantarnya harus bagus. Kalau dia ada sumbatan, bahaya itu. Kalai otak kurang makan ya kurang fungsinya, Kurang fungsinya itu ya salah satunya pikun," ungkapnya.
Kemudian, beberapa hal yang perlu diperhatikan lainnya adalah hindari pengalaman yang dapat merusak otak seperti pornografi, kejadian traumatis, atau cedera otak.
Jangan lupa pula untuk memperhatikan kecukupan nutrisi dalam tubuh. Seperti zat gizi makro dan mikro, istirahat cukup, dan rajin olahraga.
"Harus bebas dari pengalaman yang merusak otak. Misalnya kejadian traumatis, KDRT, prilaku buruk, pornografi, juga beberapa penyakit otak, seperti stroke, cedera otak, epilepsi, dan lainnya. Olahraga, disarankan 30 menit, tiga kali seminggu," imbuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/otak_20180730_114703.jpg)