Mengenang Hari Ulang Tahun Jakob Oetama ke-89, dari Perjalanan Karir hingga Kelahiran Kompas

Apabila masih berkelana di dunia, tepat pada Minggu (27/9/2020) ini, Jakob Oetama tepat berusia 89 tahun.

Editor: Siti Nawiroh
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG
Pendiri Kompas Gramedia Jakob Oetama saat difoto di ruang kerjanya di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Selasa (27/9/2016). Jakob Oetama, genap berusia 85 tahun pada hari ini. 

Meski lahir dari inisiatif tokoh Partai Katolik, tetapi koran yang didirikan Jakon bersama PK Ojong bukan menjadi corong partai.

Koran tersebut diharapkan dapat berdiri di atas semua golongan sehingga harus bersifat umum, didasarkan pada kenyataan kemajemukan Indonesia, harus menjadi cermin realitas Indonesia, mengatasi suku, agama, ras, dan latar belakang lainnya.

"Dia (koran itu) harus mencerminkan miniaturnya Indonesia," kata Jakob, seperti dilansir VIK bertajuk " Jakob Oetama 85th: The Legacy".

Sebelum bernama Kompas, awalnya nama "Bentara Rakyat" akan dipilih untuk nama koran baru itu.

Tujuannya untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, dengan moto "Amanat Penderitaan Rakyat".

Koran itu juga ditegaskan bukanlah koran partai, melainkan sarana untuk kemajuan Indonesia yang berpijak pada kemajemukannya.

Namun nama tersebut tak disetujui oleh Presiden Soekarno sehingga Presiden pertama RI itu pun memberi nama lain, yakni Kompas.

"Aku akan memberi nama yang lebih bagus...'Kompas'! Tahu toh, apa itu kompas? Pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan dan hutan rimba!" ujar Bung Karno saat itu.

Nama Kompas pun abadi hingga saat ini dan lebih dari setengah abad kemudian, Kompas Gramedia berkembang menjadi bisnis multi-industri.

Meskipun demikian Jakob Oetama tak pernah melepas identitas dirinya sebagai seorang wartawan.

Baginya, Wartawan adalah profesi, tetapi pengusaha karena keberuntungan.

Semasa hidup, Jakob Oetama dikenal sebagai sosok sederhana yang selalu mengutamakan kejujuran, integritas, rasa syukur, dan humanisme.

Ia dipandang sebagai pimpinan yang "nguwongke" dan tidak pernah menonjolkan status atau kedudukannya.

Almarhum juga berpegang teguh pada nilai humanisme transendental yang ditanamkannya sebagai fondasi Kompas Gramedia.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved