Cerita Pedagang Bunga Rawajati: Ditinggal Pergi Acara Nikahan, Bertahan Hidup dari Ucapan Duka
Pandemi Covid-19 turut menghantam perekonomian para pedagang bunga. Pesanan papan karangan bunga untuk ucapan selamat menikah menurun drastis.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN - Pandemi Covid-19 turut menghantam perekonomian para pedagang bunga.
Pesanan papan karangan bunga untuk ucapan selamat menikah menurun drastis.
Kini, papan karangan bunga lebih banyak dipesan untuk ucapan duka meski tetap tak mengubah penghasilan mereka yang menurun.
Di dekat pinggir jalur rel kereta api, deretan kios bunga Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, tampak buka.
Sebagian pedagang terlihat sibuk menghias papan bunga di depan kios.
Iwan (43), karyawan toko bunga, sedang mengecek tulisan di papan bertuliskan "Turut Berduka Cita".
Di masa pandemi, gedung-gedung untuk pernikahan sekejap berubah sunyi.
Tidak ada keramaian, tidak ada perayaan penuh sukacita.
Ia mengaku lebih banyak meladeni pesanan papan bunga untuk ucapan bela sungkawa.
"Sekarang lebih banyak meladeni papan bunga yang berduka cita. Pendapatan enggak seimbang, mendekati gulung tikar," ungkapnya kepada TribunJakarta.com di lokasi pada Selasa (6/10/2020).
Pedagang lainnya, Ani (33), sepakat bila pesanan ucapan duka cita lebih banyak dipesan.
Namun, tetap tidak sebanyak ucapan selamat menikah di masa normal sebelum pandemi.
Ia mencontohkan setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu ada saja yang memesan papan bunga untuk ucapan selamat menikah.
Dalam sebulan, Ani hanya meladeni pesanan karangan bunga untuk satu atau dua pesanan saja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/seorang-karyawan-toko-tengah-merancang-daun-di-kios-bunga-rawajati.jpg)