Sisi Lain Metropolitan
Jadi Korban Adu Banteng Kereta, Blok Makam Tragedi Bintaro 1987 di TPU Kampung Kandang Bebas Iuran
TPU Kampung Kadang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, memiliki blok khusus untuk para korban Tragedi Bintaro 1987.
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Ferdinand Waskita Suryacahya
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, JAGAKARSA - TPU Kampung Kadang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, memiliki blok khusus untuk para korban Tragedi Bintaro 1987.
Pengawas TPU Kampung Kandang, Wiyono, mengatakan blok khusus itu bebas iuran makam.
Iuran yang harus dibayarkan per tiga tahun itu tidak dibebankan kepada pihak keluarga korban.
Selama ini, ia tidak pernah memberikan surat pengantar atau rekomendasi pembayaran kepada mereka.
"Kalau untuk tragedi bintaro bebas. Saya enggak pernah memberikan surat rekomendasi untuk diteruskan ke pihak kelurahan," ungkapnya kepada TribunJakarta.com pada Senin (19/10/2020).
Jelang bulan puasa

Di TPU Kampung Kandang, Jakarta Selatan, terdapat sebuah blok khusus untuk Tragedi Bintaro 1987 yang dibuat oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Kebanyakan dari makam itu tak bernisan.
Hanya ada tiga nisan bernama dan tiga lagi tanpa nama.
Menurut Pengawas TPU Kampung Kandang, Wiyono (52), peziarah dari keluarga atau kerabat jarang mengunjungi makam itu.

Biasanya, mereka datang saat menjelang bulan Ramadan atau Hari Raya Lebaran.
"Kalau enggak acara munggahan atau lebaran mereka ke sini. Kalau pas tanggal 19 ini malah belum kelihatan," katanya kepada TribunJakarta.com pada Senin (19/10/2020).
Selama dinas sejak 2017, ia mengaku jarang melihat peziarah yang datang ke blade tragedi tersebut.
Sering Bawa Jajanan Pasar

Namun, Wiyono pernah melihat peziarah yang membawa bunga tabur jajanan pasar ke makam itu.
Selain menabur bunga, ia juga meletakkan satu nampan berisi berbagai jajanan pasar di atas makam.
"Satu nampan hanya diletakkan aja di atas gundukan makam. Selama ini baru pertama kali saya melihat tapi petugas lainnya bilang sering bawa jajanan pasar," ucapnya.
Sebelum pulang, peziarah itu menawarkan kepada petugas makam jajanan pasar yang diletakkan di atas gundukan tanah kuburan.
"Tapi kadang-kadang dipersilahkan, pak kalau mau makan engga apa-apa. Kadang-kadang mereka berdua atau bertiga aja," ujarnya.
Selama pandemi Covid-19, ia belum pernah melihat peziarah yang khusus datang untuk menyambangi blade tersebut.
Tragedi Bintaro 1987 yang menewaskan ratusan penumpang itu selalu dikenang sebagai peristiwa kelam kecelakaan kereta api di Indonesia.
Melihat Blade Makam Tragedi Bintaro
Kecelakaan maut kereta api di daerah Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan 33 tahun silam menjadi momen suram yang selalu dikenang publik setiap tahun.
Ratusan nyawa penumpang melayang akibat dua kereta api yang melaju kencang saling "beradu banteng".
Sebagian dari jasad korban bersemayam dalam keabadian di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Siang itu, Senin (19/10/2020), suasana area makam di blade khusus Tragedi Bintaro tampak sepi.
Tidak ada peziarah yang datang menengok makam di hari spesial itu.
Hanya terlihat sebuah layangan yang sobek tergeletak di atas rumput.
Baca juga: Ziarah Korban Tragedi Bintaro 1987 di TPU Kampung Kandang, Peziarah Kerap Taruh Ini di Makam
Baca juga: Melihat Makam Tragedi Bintaro 1987 di TPU Kampung Kandang: Mengenang Korban Adu Banteng 2 Kereta
Di pinggir area makam itu dihiasi pepohonan tua, tanaman hias dan pot bunga berukuran besar.
Saat kaki melangkah masuk ke area makam, terhampar gundukan tanah kuburan tak bernisan.
Hanya ada tiga batu nisan bernama yang tertancap di atas tanah kuburan dan tiga batu tak bernama.
Masing-masing gundukan itu diselimuti rerumputan hijau panjang.
Kicau burung seakan menjadi teman sepi di kuburan itu.
Kuburan massal
Peristiwa pengebumian massal korban Tragedi Bintaro 1987 di TPU tersebut tak dialami oleh Wiyono (52).
Pengurus TPU tersebut baru dinas pada tahun 2017.
Sejak dia bekerja, blok makam itu sudah ada di TPU tersebut.
"Dari tahun 2017 saya kerja, makam sudah ada di situ. Sudah dipetak-petakin begitu," ungkapnya kepada TribunJakarta.com di lokasi pada Senin (19/10/2020).
Ia juga belum pernah menghitung jumlah makam di blok Tragedi Bintaro tersebut.
Menurutnya, jasad yang disemayamkan di kuburan massal itu dalam keadaan tidak utuh.
"Jadi yang di sini kelihatannya massal aja (menguburnya). Itu dibentuk-bentuk aja gundukan makamnya," pungkasnya.