Hilang 3 Hari, Terbongkar Kisah Pilu Siswi SMP Diduga Diperkosa 10 Teman di Lima Lokasi Berbeda

Kasubag Humas Polres Buleleng Iptu Gede Sumarjaya menjelaskan, korban seperti mengalami depresi dan tertekan ketika tiba di rumah.

Penulis: Kurniawati Hasjanah | Editor: Siti Nawiroh
Freepik
Ilustrasi 

TRIBUNJAKARTA.COM - Nasib pilu dialami seorang siswa SMP di Kabupaten Buleleng, Bali, yang diduga diperkosa 10 teman.

Akibatnya, korban saat ini mengalami trauma dan depresi.

Terkuaknya peristiwa pemerkosaan ini bermula ketika sang anak baru pulang ke rumah setelah hilang tiga hari, yakni Minggu (11/10) hingga Rabu (14/10).

Kasubag Humas Polres Buleleng Iptu Gede Sumarjaya menjelaskan, korban seperti mengalami depresi dan tertekan ketika tiba di rumah.

TONTON JUGA:

Melihat hal tersebut, orang tua lantas menanyakan kondisinya.

Korban pun mengaku telah diperkosa 10 orang.

Baca juga: 8 Obat Tradisional Ala Rumahan Ini Dijamin Ampuh Hilangkan Gatal Kena Kutu Air, Apa Saja?

Mendengar pengakuan sang anak, keluarga lantas melaporkan kasusnya ke polisi.

Lebih lanjut, Iptu Gede Sumarjaya menyatakan jika saat ini korban telah mendapatkan penanganan dari psikiater.

FOLLOW JUGA:

Baca juga: Akhir Kisah Hidup Bocah Pemberani Bela Ibu Korban Rudapaksa, Pilih Kado Mainan daripada Ponsel

"Sudah bisa diajak komunikasi tapi ngalor ngidul. Berdasarkan keterangan awal diduga pelaku 10 orang dengan lima TKP," terang Sumarjaya dilansir dari Kompas.

Untuk itu, Sumarjaya mengaku pihaknya tengah menyelidiki dan mencari pelaku pencabulan tersebut.

Ilustrasi
Ilustrasi (TRIBUNLAMPUNG/DODI KURNIAWAN)

Pencabulan pertama itu diduga dilakukan pelaku pada 11 Oktober 2020.

Kejadian pertama diduga dilakukan enam orang di Penarungan, Buleleng.

Baca juga: Kisah di Balik Pembunuhan Anak & Ibu Muda Dirudapaksa, Suami Cari Uang Demi Penuhi Ngidam Istri

Kejadian kedua sampai kelima terjadi di Alasangker, Buleleng, dengan waktu dan tempat berbeda.

Tanda Bahaya Pemerkosaan

Pelatihan selama satu tahun oleh profesor psikologi, yang mengajarkan kemampuan fisik dan emosional untuk melawan serangan seksual, telah berhasil menurunkan tingkat pemerkosaan di kampus hingga separuhnya.

Satu dari empat mahasiswa Inggris mengalami pengalaman seksual yang tidak diinginkan di kampus, menurut temuan studi NUS.

Prof Chalene Y. Senn menghabiskan 10 tahun bekerja bersama tim psikolog di University of Windsor membuat program edukasi untuk membantu perempuan mempertahankan diri mereka dari serangan seksual.

Menyasar pada mahasiswa tingkat pertama—yang merupakan korban serangan seksual paling sering—pelatihan Senn sukses mengurangi tingkat pemerkosaan di kampus hingga 46 persen dengan cara mendorong perempuan untuk bertindak cepat ketika mereka berada di situasi yang tidak nyaman.

Baca juga: Yuk Daftar Beasiswa S1-S2 di Melbourne Australia Senila Rp 103 Juta, Segera Cek Syaratnya di Sini

Program dengan nama The Enchanced Asses, Acknowledge, Act (EAAA) Sexual Assault Resistance ini memberikan perempuan kemampuan fisik dan emosional untuk melawan serangan seksual melalui seri pelajaran fisik dan psikologis.

Dalam pengembangan program, Senn mengidentifikasi tanda-tanda yang mengarah pada pemaksaan seksual atau indikator sebelum pemerkosaan alias “pre-rape”.

Dirumuskan oleh Patricia Rozee dan Mary Koss pada studi mereka tahun 2001, “pre-rape” merujuk pada kategori perilaku yang secara ilmiah berhubungan dengan pelaku pria.

“Peneliti kekerasan seksual melihat serangan seksual sebagai satu titik pada serangkaian perilaku dalam masyarakat yang disebabkan berbagai masalah, namun pada umumnya soal sikap dan perilaku,” kata Senn.

Tidak ada jaminan bahwa semua pelaku serangan seksual akan berperilaku sama, karenanya Senn menegaskan bahwa pemicu tindakan tersebut beragam.

Bagaimana pun, dia menambahkan, ada beberapa tanda yang bisa menjadi tanda peringatan bila seorang pria menjadi ancaman perempuan di sekelilingnya.

Adapun tanda-tanda ini kerap dianggap sebagai hal yang biasa, sehingga seringkali diabaikan.

Baca juga: Bocah Dibunuh Karena Membelanya, Begini Perjalanan Hidup Ibu Muda Korban Rudapaksa Hamil 4 Bulan

Terlebih fakta bahwa 80 persen korban pemerkosaan mengenal pelakunya, sehingga korban cenderung tidak memperhatikan tanda-tanda ini jika pelaku adalah teman dekat, kolega atau anggota keluarga tepercaya.

Berikut beberapa tanda peringatan “pre-rape”:

1. Menguasai

Ketika seseorang menunjukkan bahwa mereka ingin menguasai Anda dalam hal-hal tertentu, itu bisa menjadi lampu merah. Misalnya memaksa melakukan hal tertentu, atau mengenakan pakaian tertentu, dan sebagainya.

2. Sentuhan yang tidak diinginkan

Menyentuh perempuan tanpa persetujuannya adalah tanda peringatan penyerangan yang jelas.

Meski begitu, kadang-kadang korban tidak bisa membedakan antara sentuhan yang sifatnya penyerangan atau yang memiliki maksud lain.

3. Menuntut dan mengatur

Sekali lagi, tanda ini bisa saja terjadi di luar konteks seksual dan dapat terjadi dalam sejumlah cara di lingkungan sosial.

Senn menjelaskan isyaratnya sebagai berikut: "Seorang pria yang bersikeras untuk melakukan caranya sendiri meskipun mengetahui bahwa bukan itu yang Anda inginkan.”

4. Pemisahan

Sama seperti bagaimana mengenali perilaku “pre-rape”— seringkali lingkungan dan keadaan juga menjadi pendorong seseorang melakukan pemerkosaan.

Biasanya, risiko penyerangan seksual terbesar terjadi saat hasrat bertemu dengan situasi yang memungkinkan.

Tanda situasional yang khas adalah memisahkan korban dari keramaian atau orang lain.

Sebagai contoh, orang yang berniat melakukan tindakan seksual biasanya memastikan bahwa dia dan korbannya benar-benar sendirian.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ketahui Tanda Bahaya Pemerkosaan" & Seorang Siswi SMP Diduga Diperkosa 10 Temannya, Korban Mengalami Depresi 

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved