Resmi Terpilih, Joe Biden Akan Jadi Presiden Amerika Serikat ke-46

Beberapa jaringan televisi utama AS melaporkan, Biden melangkah ke Gedung Putih mengalahkan Donald Trump, setelah memenangkan suara di Pennsylvania.

Editor: Siti Nawiroh
AFP /GETTY IMAGES/FREDERICK J. BROWN VIA KOMPAS
Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Joe Biden tersenyum di debat keenam Capres Demokrat yang digelar oleh PBS Newshour dan Politico di Gersten Pavilion, Universitas Loyola Marymount, Los Angeles, Kamis malam (19/12/2019) 

TRIBUNJAKARTA.COM, WASHINGTON - Joe Biden, kandidat calon presiden dari Partai Demokrat berhasil memenangkan kursi kepresidenan Amerika Serikat (AS).

Joe Biden akan menjadi presiden AS ke-46.

Beberapa jaringan televisi utama AS melaporkan, Biden melangkah ke Gedung Putih mengalahkan Donald Trump, setelah memenangkan suara di Pennsylvania.

Dari negara bagian Pennsylvania, Biden mendapatkan 20 electoral votes dan sudah cukup untuk mengamankan suaranya.

Biden kini mengantongi 273 electoral votes, melebihi minimal 270 electoral votes yang dibutuhkan untuk memenangkan pemilihan Presiden AS. Sementara Donald Trump hanya meraih 214 electoral votes, menurut data Edison Research.

Reuters melaporkan, para pemilih sepertinya dengan tegas menolak kepemimpinan yang kacau dari Donald Trump dan memilih janji Biden untuk memerangi pandemi virus corona dan memperbaiki ekonomi AS.

Baca juga: 2 Pelaku Begal Kolonel Marinir Pangestu saat Bersepeda Berhasil Ditangkap Polisi

Biden yang juga mantan wakil presiden AS akan resmi memasuki Gedung Putih pada 20 Januari 2021 mendatang.

Biden akan menjabat Presiden AS pada usia 78 tahun. Dia kemungkinan akan menghadapi tugas sulit memerintah di Washington yang sangat terpolarisasi.

Pada Jumat lalu, Biden mengatakan, dia berharap untuk memenangkan perlombaan tetapi menahan diri untui memberikan pidato kemenangan.

Seorang penasihat Trump mengakui, peluang Trump menipis, tetapi Trump belum siap untuk mengakui kekalahan.

Pemilu tahun 2020 merupakan salah satu yang paling penting dalam sejarah AS, sama pentingnya dengan pemilu selama Perang Saudara 1860-an dan Depresi Hebat 1930-an.

Selama berbulan-bulan, para tim di kedua belah pihak melontarkan kekhawatiran bahwa Amerika Serikat tidak dapat memberikan suara yang adil.

Pada akhirnya, bagaimanapun, pemungutan suara di tempat pemungutan suara berjalan dengan gangguan terbatas karena jutaan orang mengantre dengan sabar untuk memilih.

Baca juga: Hilangkan Jejak Usai Pukuli Bu Guru Ngaji sampai Kritis, Suami Pembantu Bersih-bersih Dulu di Dapur

Ribuan pemantau pemilu dari kedua partai bekerja selama empat hari untuk memastikan penghitungan suara. Drama pemilu kemungkinan akan dimainkan selama berminggu-minggu, jika tidak berbulan-bulan.

Baca juga: Donald Trump Hardik Joe Biden: Jangan Sembarang Klaim Telah Jadi Presiden

Halaman
12
Sumber: Kontan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved