Pasien di Rumah Lawan Covid-19 Tangsel Melonjak, Disebut Imbas Kerumunan di Jakarta

Pasien Covid-19 di tempat karantina Rumah Lawan Covid-19 (RLC) Tangerang Selatan (Tangsel) melonjak tajam beberapa hari belakangan.

TribunJakarta.com/Jaisy Rahman Tohir
Belasan pasien Covid-19 sembuh di RLC Tangsel, Minggu (29/11/2020). 

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG SELATAN - Pasien Covid-19 di tempat karantina Rumah Lawan Covid-19 (RLC) Tangerang Selatan (Tangsel) melonjak tajam beberapa hari belakangan.

Koordinator RLC Tangsel, Suhara Manullang, mengatakan, rata-rata per hari pasien Covid-19 yang masuk mencapai 10 orang.

Sedangkan, biasanya, pada periode sebelum akhir November 2020, hanya lima orang per hari.

"Bersyukur pada sore hari ini rumah Lawan Covid-19 bisa memulangkan pasien sembuh 17 orang. Yang mana perlu saya sampaikan memang beberapa minggu ini, terjadi lonjakan pasien."

"Di mana biasanya rata rata yang masuk ke Rumah Lawan Covid-19 itu di bawah 10 sekarang sudah di atas 10," papar Suhara di Rumah Lawan Covid-19 Tangsel, Ciater,  Serpong, Minggu (29/11/2020).

150 kasur yang tersedia dengan berbagai fasilitasnya kini mulai penuh.

Saat ini, sudah ada 106 pasien yang sedang menjalani karantina di RLC.

Baca juga: Dengar Teriakan Minta Tolong, Anak di Polewali Mandar Kaget Lihat Ibu & Ayah Sudah Bersimbah Darah

Hampir semua berstatus orang tanpa gejala (OTG). Namun ada beberapa pasien baru yang akan melewati pemeriksaan medis terlebih dahulu untuk kemudian ditentukan kembali kategorinya.

"Dan kapasitas yang biasanya hanya, yang terpakai ya dari 150 tempat tidur itu hanya sekitar 50 tempat tidur, sekarang sudah mencapai 100," ujarnya.

Suhara memaparkan, lonjakan jumlah pasien yang dikarantina di RLC tidak lepas dari situasi di sekitar Tangsel, terutama DKI Jakarta.

Tak ayal, sebagian warga Tangsel bekerja dan berkegiatan di Ibu Kota.

Baca juga: FPI: Habib Rizieq Pulang dari RS Ummi karena Sudah Sehat

"Jadi kalau dilihat ya terjadi satu Kerumunan terutama ya. Kerumunan itu ya pasti akan terjadi penularan penularan.
Nah kemudian juga ada beberapa kejadian di Jakarta. Ya kita lihat masa inkubasi aja. 14 hari itu biasanya terjadi lonjakn kan," paparnya.

Saat ditanya apakah kerumunan yang dimaksud terkait rentetan kegiatan yang melibatkan Rizieq Shihab, dari mulai penyambutan sang Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, hingga acara maulid nabi serta perkawinan anaknya di Petamburan, Jakarta Pusat, Suhara melanjutkan paparannya.

Menurut mantan Kepala Dinas Kesehatan Tangsel itu, jawabannya bisa iya pun tidak.

Hal itu karena tidak ada pasien yang secara langsung mengaku hadir pada acara itu.

Namun bisa saja ada salah seorang keluarganya yang hadir, dan menularkan kepada anggota keluarga  lainnya.

"Kan klaster keluarga itu kan, bapaknya misalnya ikutan kerumunan di situ, bawa ke rumah, keluarganya kena," paparnya.

Suhara menegaskan, saat ini sulit menelusuri penularan Covid-19. Hal itu karena banyak orang yang terjangkit corona namun tanpa gejala.

"Kalau sekarang sulit klasternya, pohon kasusnya sulit. Waktu awal-awal bisa ketahuan, ini tuh dari sini. Karena saking banyaknya OTG," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved