Antisipasi Virus Corona di DKI

PSBB Transisi Disebut Kebijakan Gagal Anies, Epidemiolog: Bukan Pengetatan Tapi Pelonggaran Sosial

Tri Yunis Miko mengkritik kebijakan perpanjangan PSBB masa transisi yang diterapkan Pemprov DKI, persentase angka positif di DKI Jakarta meningkat.

Tangkapan layar YouTube Pemprov DKI Jakarta
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedang konferensi pers terkait pengetatan PSBB di Balai Kota DKI Jakarta, Minggu (13/9/2020). Tri Yunis Miko mengkritik kebijakan perpanjangan PSBB masa transisi yang diterapkan Pemprov DKI, persentase angka positif di DKI Jakarta meningkat. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono mengkritik kebijakan perpanjangan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masa transisi yang diterapkan Pemprov DKI.

Pasalnya, persentase angka positif atau positivity rate Covid-19 di DKI Jakarta terus meningkat.

Belum lagi ketersediaan rumah sakit rujukan Covid-19 di ibu kota terus menipis. 

"Seharusnya tidak PSBB transisi lagi. Lagi pula PSBB transisi itu sebenarnya pembatasan sosial sekaligus pelonggaran sosial," ucapnya, Selasa (22/12/2020).

Menurutnya, PSBB masa transisi yang diterapkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ini merupakan kebijakan gagal.

Sebab, penyebaran Covid-19 malah terus meroket dan semakin tidak terkendali selama PSBB masa transisi ini diterapkan.

Baca juga: Ibu Ajak Anak Kandung Berhubungan Intim, Digerebek Polisi dan Ditangkap karena Jual Narkoba

"Jadi enggak tepat pada saat sekarang ini (diterapkan). PSBB transisi di Jakarta dan daerah lain itu (bentuk) ketidakseriusan (Pemda)," ujarnya saat dikonfirmasi.

Dalam penanganannya, seharusnya Pemprov DKI sudah melakukan pemetaan terkait klaster-klaster penularan Covid-19.

Setelah itu, barulah Pemprov DKI memutuskan langkah penanganan selanjutnya lewat kebijakan yang dikeluarkannya.

"Seharusnya kalau kita melakukan PSBB itu di klaster yang banyak terjadi penularan. Misalnya klaster rumah tangga, di sana mesti ditambah fasilitas isolasi," tuturnya.

Baca juga: Aurel Bocorkan Waktu Nikah dengan Atta Tahun Depan, Melaney Ricardo Tertawa: Buru-buru Banget Mbak

"Umpamanya paling banyak di transportasi, ya batasi (kapasitas penumpang) sampai 30 persen," tambahnya menjelaskan.

Untuk diketahui, belakang kasus Covid-19 di ibu kota mengalami lonjakan.

Bahkan, pada Sabtu (19/12/2020) penambahan kasus Covid-19 mencatatkan rekor dengan jumlah 1.899 kasus.

Adapun total kasus Covid-19 di DKI Jakarta hingga Senin (21/12/2020) kemarin telah mencapai angka 164.577 kasus.

Baca juga: Dapat Nyinyiran Netizen karena Masuk Nominasi Wanita Tercantik di Dunia, Begini Respons Lesti Kejora

Kemudian, positivity rate sepekan terakhir berada di kisaran 9,9 persen dan secara total 8,5 persen.

Untuk tingkat keterisian rumah sakit rujukan Covid-19, saat ini hanya tersisa 15 persen untuk ruang isolasi dan 20 persen sisanya ICU.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved