Breaking News:

Hubungan Sesama Jenis di RS Wisma Atlet Kemayoran, Psikolog Sebut Karena Ada Kesempatan

Publik tengah dihebohkan dengan kasus hubungan sesama jenis antara pasien Covid-19 dan perawat yang terjadi di Rumah Sakit Wisma Atlet Kemayoran

freepik
Ilustrasi 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS – Publik tengah dihebohkan dengan kasus hubungan sesama jenis antara pasien Covid-19 dan perawat yang terjadi di Rumah Sakit Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat.

Kasus ini pun menyedot perhatian dari berbagai pihak, dan tak lepas dari komentar para Psikolog. Satu di antaranya adalah Aully Grashinta, Psikolog Universitas Pancasila.

Menanggapi kasus ini, Aully menilai terjadinya hubungan sesama jenis ini tak bisa lepas dari pribadi para pelakunya.

Tenaga kesehatan memang memiliki hubungan dengan setiap pasien secara personal, dan dalam kondisi isolasi yang memakan waktu dua pekan atau bisa lebih ini, peran tenaga kesehatan jauh terasa lebih besar.

Intensitas pertemuan antara tenaga kesehatan dengan pasien pun cukup tinggi, musabab pihak keluarga pasien tidak bisa mendampingi karena prosedur isolasi Covid-19.

 “Kamar pasien sendiri beda-beda, ada yang bersama dan ada yang sendiri, tentunya yang sangat memungkinkan terjadinya kontak personal,” kata Aully dikonfirmasi wartawan, Senin (28/12/2020).

Lanjut Aully, pasien memang rentan mengalami stress, jenuh, bosan, dan frustasi saat menjalani isolasi di Rumah Sakit, begitupun dengan tenaga kesehatan.

 “Saat keduanya memahami kebutuhan ini ya sangat mungkin terjadinya hubungan itu. Tentunya keduanya akan mengesampingkan norma kesusilaan dan pasti resiko kesehatan dari keduanya,” tuturnya.

Baca juga: Tersangka Kecelakaan Maut di Pasar Minggu Buat Laporan Terkait Korban Dugaan Pemukulan

Baca juga: 197.380 Keluarga di Kota Bekasi Masuk Data Penerima Bansos Tunai 2021

Baca juga: Sebanyak 328 Guru Ngaji di Tangerang Selatan Dapat Insentif Rp 500 Ribu

Aully menegaskan, antisipasi utama terhadap hal ini adalah bahwa seluruh tenaga kesehatan harus memegang teguh kode etik profesinya.

“Tidak sedikit kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan RS karena memang ada kesempatan untuk itu, tapi jika kondisinya suka sama suka tentunya bukan pelecehan namanya,” katanya.

Aully menilai bahwa kasus hubungan sesama jenis ini terjadi juga karena adanya kesempatan.

 “Betul karena adanya dorongan seksual yang sama dan kesempatan. Tentunya mengesampingkan norma kesusilaan, agama dan resiko kesehatan masing-masing,” demikian ucapnya.

Penulis: Dwi Putra Kesuma
Editor: Muhammad Zulfikar
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved